Temuan Struktur Batuan Purba di Gunung Susuru Sumedang Diduga Sisa Aktivitas Gunung Api Jutaan Tahun Lalu

oleh

RADARSUMEDANG.id, GANEAS –Jajaran Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sumedang menemukan struktur batuan purba misterius di kawasan Gunung Susuru, tepatnya di Dusun Sahang, Desa Dayeuh Luhur, Kecamatan Ganeas.

Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Sumedang, M. Budi Akbar, menjelaskan bahwa struktur tersebut berupa lempengan batu besar yang tersusun rapi mengelilingi tubuh Gunung Susuru. Temuan ini pertama kali dilaporkan oleh perangkat desa bersama tokoh masyarakat setempat yang sebelumnya melakukan survei ke lokasi.

“Awalnya laporan datang dari Kepala Desa dan tokoh masyarakat yang melihat susunan batuan unik di salah satu titik Gunung Susuru. Setelah kami cek ke lapangan, ternyata benar ada struktur batuan yang secara ilmiah tergolong columnar joint,” ujar Budi saat dikonfirmasi Radar Sumedang, Minggu (5/10/2025).

Berdasarkan hasil pengamatan awal, lanjut Budi, struktur batuan itu terbentuk dari lahar dingin yang mengeras jutaan tahun silam, kemungkinan berasal dari aktivitas gunung api purba pada masa Tersier, sekitar 20 hingga 60 juta tahun lalu.

“Yang menarik, posisinya miring di ketinggian antara 500 hingga 600 meter di atas permukaan laut (MDPL). Struktur ini tergolong langka karena berbeda dari columnar joint di daerah lain yang biasanya tegak lurus,” jelasnya.

Selain memiliki nilai ilmiah tinggi, keberadaan batuan purba di Gunung Susuru dinilai berpotensi menjadi objek wisata geologi dan memperkuat posisi Kabupaten Sumedang dalam usulan kawasan Geopark Sumedang.

“Ke depan kami akan melibatkan ahli geologi dan akademisi untuk meneliti lebih lanjut tinggalan geologi zaman purba ini. Harapannya, Gunung Susuru bisa ditetapkan sebagai geo-site dan menjadi bagian dari kawasan geopark yang kami usulkan di tingkat provinsi,” tambahnya.

Disparbudpora bersama pemerintah desa juga berkomitmen menjaga warisan geologi dan potensi budaya di kawasan tersebut.

“Kami ingin memperkuat tiga pilar utama, yaitu geo-diversity, bio-diversity, dan cultural diversity, agar Sumedang semakin layak menjadi kawasan geopark,” tutur Budi.

Sementara itu, Kepala Desa Dayeuh Luhur, Eman Sutisna, mengapresiasi langkah cepat Disparbudpora menindaklanjuti laporan masyarakat.

“Alhamdulillah, setelah kami laporkan adanya susunan batuan unik di Dusun Sahang, pihak Disparbudpora langsung turun ke lokasi. Kami berharap temuan ini bisa menjadi potensi wisata baru yang menarik minat peneliti, konten kreator, dan wisatawan,” kata Eman.

Ia juga menilai, selain berdampak pada pengembangan ilmu geologi, keberadaan struktur batuan tersebut dapat menggerakkan ekonomi warga melalui wisata edukatif berbasis konservasi alam.(jim)

No More Posts Available.

No more pages to load.