ITB Dorong Ketahanan Pangan Jabar Lewat Teknologi Irigasi Tetes Cerdas

oleh

RADARSUMEDANG.id, PAMULIHAN — Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan di Jawa Barat.

Melalui Program Pengabdian Masyarakat Skema Top Down Ketahanan Pangan, ITB melaksanakan kegiatan Diseminasi Teknologi Irigasi Tetes pada Budidaya Sayuran di Desa Haurngombong, Kabupaten Sumedang, pada 26 Oktober 2025.

Kegiatan ini digawangi oleh tim pengabdian masyarakat dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB yang diketuai Dr. Popi Septiani, bersama Dr. Dadang Sumardi dan Tetep Ginanjar, SP., MP. Program ini merupakan lanjutan dari pendampingan teknologi pertanian berkelanjutan yang telah dimulai sejak Juli 2025, ketika tim ITB bersama petani mitra mulai menerapkan sistem irigasi tetes pada lahan percontohan bawang merah.

Sistem irigasi tetes dirancang untuk menyalurkan air secara efisien langsung ke zona perakaran tanaman. Teknologi ini terbukti mampu mengurangi pemborosan air dan menjaga kelembapan tanah pada tingkat optimal. Setelah lebih dari empat bulan penerapan, hasil panen pada November 2025 menunjukkan peningkatan produktivitas signifikan—mencapai 17 ton per hektar, jauh di atas hasil rata-rata sistem konvensional.

Menurut Dr. Popi Septiani, penerapan irigasi tetes bukan hanya inovasi teknis, tetapi juga langkah strategis menuju pertanian cerdas yang hemat sumber daya.

“Teknologi ini mampu mengatur air dan nutrisi secara presisi, sehingga setiap tetes air benar-benar dimanfaatkan oleh tanaman. Dalam konteks perubahan iklim dan keterbatasan air, sistem ini bisa menjadi solusi nyata bagi petani hortikultura,” ujarnya.

Dalam kegiatan diseminasi yang dihadiri kelompok tani, aparat desa, dan siswa SMK Pertanian setempat, tim ITB memberikan pelatihan langsung tentang instalasi sistem, pengaturan pompa dan filter, serta perawatan irigasi tetes. Peserta juga mempraktikkan penyusunan jalur selang tetes untuk berbagai komoditas seperti tomat dan bawang merah.

Sistem ini disebut mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air hingga 40 persen sekaligus menekan risiko penyakit akar akibat kelembapan berlebih. Selain transfer teknologi, kegiatan ini juga menjadi ajang transfer pengetahuan dan perubahan pola pikir bagi petani.

“Kami ingin petani menjadi pelaku utama dalam inovasi pertanian, bukan sekadar penerima bantuan,” tambah Dr. Popi.

Para petani yang terlibat menyambut baik hasil yang diperoleh.

“Dengan irigasi tetes, airnya lebih hemat dan tanaman tidak mudah layu saat musim kering,” ungkap salah satu petani peserta.

Ia juga menambahkan, hasil umbi lebih seragam dan kualitas pascapanen meningkat, sehingga berdampak positif pada harga jual di pasar lokal.

Program ini menjadi bagian dari upaya ITB dalam mengimplementasikan hasil riset di lapangan, mendorong inovasi pertanian adaptif, serta memperkuat kapasitas daerah menghadapi tantangan pangan masa depan.

Ke depan, tim berencana memperluas penerapan sistem irigasi tetes ke berbagai komoditas hortikultura lain, termasuk di wilayah Indonesia bagian timur yang rawan kekeringan.

“Keberhasilan budidaya bawang merah dengan hasil panen mencapai 17 ton per hektar menjadi bukti bahwa teknologi sederhana sekalipun, bila diterapkan dengan pendekatan ilmiah dan pendampingan berkelanjutan, dapat membawa perubahan besar bagi kesejahteraan petani,” tutup Dr. Popi Septiani.(tha)

No More Posts Available.

No more pages to load.