Keluarga Trah Turunan Kerajaan Sumedang Islah

oleh
oleh
TRI BUDI SATRIA/RADARSUMEDANG.ID ISLAH: Ketua Dewan Pembina YPS, Brigjen TNI (P) GRARV Mustikaningrat dan Ketua YNWPS, Rd. Luky Djohari Soemawilaga di Gedung Srimanganti, Museum Prabu Geusan Ulun, Jalan Prabu Geusan Ulun Nomor 40, Kabupaten Sumedang pada Selasa, 25 November 2025

RADARSUMEDANG.ID – Demi mengikat kembali tali persaudaraan untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan serta Deklarasi Pelaksanaan Program Pengembangan Perwakafan Pangeran Aria Soeria Atmadja, keluarga trah turunan Kerajaan Sumedang mengadakan islah. Acara tersebut diselenggarakan di Gedung Srimanganti, Museum Prabu Geusan Ulun, Jalan Prabu Geusan Ulun Nomor 40, Kabupaten Sumedang pada Selasa, 25 November 2025.

 

Ketua Dewan Pembina Yayasan Pangeran Sumedang (YPS), Brigjen TNI (P) GRARV Mustikaningrat menyebutkan, keluarga trah turunan Kerajaan Sumedang mengadakan islah dan berkumpul kembali merupakan semua keluarga yang berasal dari Pangeran Sugih, Pangeran Aria Soeria Atmadja.

 

“Kita mengelola wakaf yang segitu banyak ini sudah bertahun-tahun. Alhamdulillah, sebenarnya sudah islah dari Maret 2024. Cuma karena kesibukan ketua tim islah, akhirnya kita inisiatif secara kekeluargaan saja dulu,” sebut Mustikaningrat, usai acara.

 

Dia menjelaskan, sebenarnya YPS cuma ada satu. Turunan kerajaan Sumedang itu punya kemistri yang kebetulan juga ada YNWPS. “Akhirnya kami semuakan keturunan trah Pangeran Sumedang,” ucapnya.

 

Harapannya, lanjut Mustikaningrat, kembali ke marwahnya dengan satu tujuan. “Untuk merawat wakaf, mengelola wakaf sebagaimana, karena banyak sekali yang terbengkalai dan kita harus membuat supaya bermanfaat bagi wargi dan masyarakat Sumedang, penerima manfaat itulah,” jelasnya.

 

Mengenai wakaf tersebut sudah amanah dari Pangeran Aria Soeria Atmadja. Sebenarnya masih banyak aset-aset yang harus diinventarisir. “Yang manfaatnya untuk masyarakat wargi penerima manfaat, itu yang menjadi cita-cita Pangeran Aria Soeria Atmadja. Begitu juga Pangeran Sugih adalah ayah kandung dari Pangeran Aria Soeria Atmadja,” papar Mustikaningrat.

 

Bersamaan dalam acara dimaksud, juga dilakukan pengembalian Gamelan Sari Oneng Parakansalak untuk disimpan kembali di Museum Prabu Geusan Ulun. Gamelan itu mengandung nilai sejarah yang tinggi, karena turut dihadirkan saat pembukaan Menara Eiffel di Prancis kala itu dan saat penobatan Ratu Belanda.

 

Senada dengan itu, Ketua YNWPS, Rd. Luky Djohari Soemawilaga mengatakan, acara dimaksud untuk menunaikan amanat dari Surat Keputusan Badan Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI) tanggal 21 Maret 2024, Nomor: 013 / BWI /III/2024 tentang pembentukan Tim Teknis Perdamaian (Islah) antara Yayasan Pangeran Sumedang (YPS) dan Yayasan Nazir Wakaf Pangeran Sumedang (YNWPS).

 

Pihaknya memiliki inisiasi untuk membuka ruang kesempatan yang seluas-luasnya melakukan rekonsiliasi bersama. “Karena bagaimanapun juga kita ingin membangkitkan lagi nilai-nilai luhur, terutama nilai untuk mempererat tali kekeluargaan,” ujarnya.

 

Meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan demi kemajuan perwakafan Pangeran Aria Soeria Atmadja yang diikrarkan pada 22 September 1912. “Agar wakaf ini menuju wakaf yang produktif untuk kemaslahatan kepentingan masyarakat dan bangsa ini lebih baik kedepan,” jelasnya.

 

Rd. Luky mengakui, hal berbahagia juga dalam acara ini adalah pengembalian Gamelan Sari Oneng Parakansalak yang kembali kepada pangkuan Sumedang, diwakili perwakilan keluarga R.A.A Soeria Danoeningrat. “Diserahkan ke kami untuk disimpan kembali di Museum Prabu Geusan Ulun Keraton Sumedang Larang. Ini merupakan sebuah anugerah dari Gusti Allah, akan kenikmatan kebahagiaan yang kita rasakan,” ungkapnya seraya menambahkan, mendapatkan nilai kebersamaan dengan melakukan rekonsiliasi ini.

 

Secara historis, Gamelan Sari Oneng Parakansalak merupakan kebanggaan Kabupaten Sumedang dan Provinsi Jabar bahkan nasional. (tri)

No More Posts Available.

No more pages to load.