Surian: Ujung yang Bisa Menjadi Titik Awal

oleh
Naya Sunarya

Oleh: Naya Sunarya

RADARSUMEDANG.id — Di Sumedang ada satu kecamatan yang nyaris tak terdengar dalam gemuruh pidato pembangunan: Kecamatan Surian. Surian merupakan satu-satunya kecamatan di Sumedang yang memiliki konektivitas langsung ke wilayah barat dan utara, berbatasan dengan Kabupaten Subang dan Indramayu melalui pintu masuk Desa Tanjung dan Desa Nanjungwangi di Kecamatan Buahdua. Surian juga dapat diakses dari arah Kecamatan Tanjungkerta, Tanjungmedar, serta melalui Desa Hariang di Kecamatan Buahdua.

Secara geografis Surian sebenarnya tidak terisolasi, namun ia seperti sebuah pojok peta yang jarang disapa—meski tetap berdiri, bertahan, dan berharap.

Secara historis, Kecamatan Surian merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Buahdua. Dulu masyarakat setempat menyebut wilayah ini sebagai “Surian Komplek”. Secara yuridis, Kecamatan Surian dibentuk melalui Perda No. 51 Tahun 2000 tentang Pembentukan Kecamatan, dan disempurnakan melalui Perda No. 12 Tahun 2012 tentang Penataan Pembentukan Kecamatan di Kabupaten Sumedang. Saat ini Surian terdiri dari 9 desa, 38 rukun warga, dan 94 rukun tetangga.

Namun sejak lahir sebagai wilayah administratif baru, Surian belum mendapatkan perlakuan pembangunan yang benar-benar setara. Akses jalan utama yang rusak, kondisi tanah yang labil, serta cuaca panas khas dataran rendah memperkuat kesan keterpinggiran. Ironisnya, meski jumlah penduduknya hanya 12.035 jiwa (BPS 2023), semangat masyarakat Surian untuk maju justru terasa lebih kuat dibanding banyak wilayah lain yang lebih “beruntung.”

Sebagian besar wilayah Surian merupakan perkebunan tanaman keras. Namun kontur tanah campuran dan iklim panas kering justru menyimpan potensi besar bagi komoditas ekspor bernilai tinggi seperti vanili, kapulaga, dan merica. Dengan tata kelola yang tepat, tidak mustahil Surian menjadi sentra rempah baru Jawa Barat. Terlebih, sebagian wilayah Surian kini masuk dalam kawasan strategis Bendung Sadawarna—bendungan besar yang mengairi lahan pertanian lintas kabupaten. Surian tidak boleh hanya menjadi pelengkap peta proyek; ia harus menjadi bagian dari manfaat nyata.

Sayangnya, pembangunan di Sumedang selama ini cenderung berpusat di wilayah tengah dan selatan. Surian seperti anak tangga yang patah di ujung: tidak seksi secara politik, kecil, jauh, minim investasi, minim konektivitas infrastruktur jalan, dan sering dianggap bukan prioritas. Padahal, keadilan pembangunan bukan soal jumlah penduduk atau besarnya suara elektoral, melainkan tentang siapa yang dijangkau dan siapa yang selama ini ditinggalkan.

Sudah saatnya Surian menjadi prioritas pembangunan. Pemerintah daerah dapat menetapkan wilayah ini sebagai zona percepatan pembangunan perbatasan. Jalan utama harus dibangun ulang dengan teknologi khusus untuk tanah labil. Program padat karya berbasis warga dapat membuka lapangan kerja jangka pendek sekaligus melatih kemandirian. Potensi vanili dan merica harus didorong menjadi proyek unggulan berbasis koperasi desa dengan dukungan pelatihan dan akses pasar.

Lebih jauh lagi, posisi strategis Surian membuka peluang kolaborasi lintas daerah. Jika jalur penghubung dengan Subang dan Indramayu diperkuat, Surian dapat menjadi simpul ekonomi agroindustri perbatasan. Dari wilayah yang dulu tertinggal, Surian bisa bangkit menjadi koridor penghubung masa depan.

Penutup

Pembangunan yang adil bukan membangun yang mudah, tetapi menyentuh yang sulit dan menjadikannya setara. Surian adalah wajah dan etalase Sumedang bagian barat dan utara. Ia adalah ujian, tetapi juga peluang. Jika Sumedang ingin tumbuh kokoh dan merata, maka Surian harus dilibatkan sebagai bagian dari langkah—bukan hanya menjadi bayang-bayang di belakang.(*)

*) Warga Sumedang, mantan anggota DPRD Sumedang, Ketua Dewas Fokus Sinergi Kemitraan.

No More Posts Available.

No more pages to load.