RADARSUMEDANG.id, JAKARTA—Bagi pejabat-pejabat Kemendikbudristek era Nadiem Makarim, mendapatkan uang ratusan juta rupiah ternyata gampang.
Dari rekanan atau pengusaha penyedia Chromebook dari PT Bhinneka Mentari Dimensi, Mariana Susy, para pejabat ini mudah saja mendapat Rp 500 juta, Rp250 juta, bahkan 30.000 US Dollar.
Uang ratusan juta yang dibagi-bagi ini hanya duit terima kasih atas keuntungan yang diperoleh Mariana Susy karena menginstal CDM laptop Chromebook.
Pengakuan ini disampaikan Mariana Susy, pengusaha PT Bhinneka Mentari Dimensi, di PN Tipikor Jakarta, Selasa (3/2/2026).
“Ada ya? Duit apa itu? Duit keuntungan dari instal ini?” tanya Jaksa Roy Riady dalam sidang kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook Kemendikbudristek.
“Iya, sebagai tanda terima kasih, pak,” jawab Susy.
Susy menjelaskan, uang itu diberikannya sebatas untuk berterima kasih kepada para pejabat karena dia sudah diberikan pekerjaan untuk meng-install chrome device management (CDM) di laptop-laptop Chromebook yang diadakan Kemendikbudristek.
Berdasarkan BAP yang dibacakan jaksa, Susy terlibat dalam pengadaan laptop Chromebook periode 2020-2022.
Dalam berkas dakwaan, Susy disebut mendapatkan keuntungan kotor kurang lebih Rp 10,2 miliar dari proyek ini.
Susy lalu mengeklaim, pemberian itu tidak dilandasi niat jahat, melainkan murni berbagi rezeki.
“Saya dengan tulus kok Pak, dengan hati memberikan itu. Jadi, saya tidak pikir apa-apa,” kata Susy.
Susy mengaku tahu bahwa orang-orang yang ia berikan uang adalah pejabat Kemendikbudristek.
Namun, ia mengaku tidak berpikir terlalu jauh tentang pemberian kepada sejumlah pejabat kementerian ini.
“Oh, jadi apa… dari pikirannya apa memberikan itu?” tanya jaksa.
“Dengan hati aja berbagi rezeki,” jawab Susy.
Berdasarkan uraian surat dakwaan, ada sejumlah pejabat Kemedikbudristek yang menerima aliran dana dari Susy.Kisaran uang yang diberikan mulai dari Rp 500 juta, Rp 250 juta, hingga puluhan juta dollar AS.
Bahkan Mariana Susy pernah memberikan uang 30.000 dollar AS dan Rp 200 juta kepada PPK Direktorat SMA Kemendikbudristek, Dhany Hamidan Khoir.
Dhany lalu membagikan uang tersebut kepada beberapa orang, yaitu Purwadi Susanto dan Suhartono Arham masing-masing menerima 7.000 dollar AS, sedangkan Dhany kebagian 16.000 dollar AS dan Rp200 juta.
Kembalikan Rp5,15 Miliar ke Jaksa
Susy juga mengaku telah mengembalikan keuntungan sebesar Rp 5,15 miliar dari proyek ini karena takut dengan kasus yang kini berjalan.
Ketua majelis hakim, Purwanto S Abdullah sempat memperdalam soal pengembalian Rp 5,15 miliar tersebut.
Pasalnya, berdasarkan berita acara pemeriksaan (BAP) yang dibacakan jaksa, Susy terlibat dalam pengadaan periode 2020-2022.
Susy mengatakan, angka Rp5,15 miliar berasal dari hitungannya sendiri. Dia menghitung laba dari keuntungan kotor Rp 10,2 miliar dikurangi dengan biaya operasional dan biaya lain.
“Dari Rp 10 M itu sudah saya potong-potong dengan biaya-biaya, saya masih ada keuntungan sekitar kurang lebih segitu Rp 5,15 miliar,” jelas Susy Mariana.(net)





