RADARSUMEDANG.id, BANDUNG – Masjid Raya Bandung selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah menyiapkan rangkaian kegiatan keagamaan dan sosial yang akan berlangsung sepanjang bulan suci. Program yang disusun tidak hanya berfokus pada peningkatan ibadah, tetapi juga memperkuat peran masjid menjadi pusat aktivitas umat dan ruang kebersamaan masyarakat Kota Bandung.
Ketua Nadzir Masjid Raya Bandung, Roedy Wiranatakusumah mengatakan Ramadan 1447 Hijriah menjadi momentum penting untuk kembali memakmurkan masjid melalui aktivitas yang lebih hidup dan partisipatif. Pengelola masjid menyiapkan agenda harian hingga kegiatan berskala besar agar masyarakat merasakan atmosfer Ramadan secara menyeluruh.
Roedy menjelaskan kegiatan utama yang akan digelar meliputi tausiah rutin, pesantren kilat, buka puasa bersama, pembagian takjil harian, hingga penyelenggaraan Ramadan Festival yang terbuka untuk umum. Seluruh agenda dirancang untuk menjangkau berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, pelajar, hingga keluarga.
“Program tausiah menjadi kegiatan inti selama Ramadan. Kajian keagamaan dijadwalkan berlangsung setiap hari menjelang waktu berbuka puasa serta sebelum salat tarawih, menghadirkan para dai dan ulama yang telah disiapkan guna memberikan penguatan spiritual kepada jamaah,” ujar Roedy, Minggu (22/2/2026).
Roedy mengungkapkan peningkatan kualitas ibadah jamaah menjadi fokus utama penyelenggaraan program Ramadan 1447 Hijriah. Materi tausiah diarahkan pada penguatan akhlak, peningkatan keimanan, serta pembahasan isu-isu keumatan yang relevan dengan kehidupan masyarakat perkotaan.
“Selain kajian rutin, Masjid Raya Bandung menyiapkan program pesantren kilat Ramadan yang menyasar pelajar dan generasi muda, sarana pembinaan karakter sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap masjid, pusat pendidikan Islam,” ucapnya.
Menurutnya, pesantren kilat akan diisi dengan pembelajaran Al-Qur’an, diskusi keislaman, praktik ibadah, serta kegiatan pembinaan moral, membentuk generasi muda yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
“Aspek sosial, pengurus masjid menyiapkan program buka puasa bersama dan pembagian takjil setiap hari sepanjang Ramadan. Kegiatan yang melibatkan partisipasi jamaah, para donatur yang secara konsisten berkontribusi setiap tahun,” katanya.
Roedy menyebutkan buka puasa bersama melibatkan perwakilan dari 30 kecamatan di Kota Bandung yang dijadwalkan hadir secara bergiliran. Kehadiran warga dari berbagai wilayah, menjadi sarana mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat rasa kebersamaan lintas komunitas.
“Kegiatan harian Ramadan diawali agenda ngabuburit bernuansa religi, dilanjutkan tausiah menjelang berbuka, salat berjamaah, hingga makan bersama. Pola kegiatan dirancang agar masjid tetap ramai sejak sore hingga malam hari,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Roedy pun menjelaskan Masjid Raya Bandung menggelar Ramadan Festival mulai 6 hingga 15 Maret 2026 di area luar masjid. Festival yang menghadirkan bazar Ramadan, kegiatan edukasi Islami, serta hiburan religi yang tetap menjaga nilai kesederhanaan dan syariat.
“Ramadan Festival diproyeksikan menjadi ruang interaksi umat sekaligus penggerak ekonomi masyarakat kecil melalui pelibatan pelaku usaha mikro dan komunitas lokal, menghadirkan suasana Ramadan yang hangat dan inklusif,” katanya.
Roedy menyampaikan seluruh imam salat dan penceramah selama Ramadan telah ditetapkan secara final. Para pengisi tausiah akan menyampaikan kultum dan ceramah tematik secara terjadwal agar jamaah memperoleh materi keagamaan yang berkesinambungan.
“Kesiapan teknis maupun programatik telah dimatangkan sejak jauh hari untuk antisipasi meningkatnya jumlah jamaah selama Ramadan, memastikan pelayanan ibadah berjalan nyaman, tertib, dan kondusif bagi seluruh pengunjung masjid,” ucapnya.
Roedy menambahkan melalui rangkaian kegiatan Masjid Raya Bandung, Ramadan 1447 H menjadi momentum peningkatan kualitas ibadah, penguatan ukhuwah Islamiyah, serta menghadirkan suasana religius yang khusyuk dan penuh kebersamaan di jantung Kota Bandung.
“Ramadan tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga gerakan kolektif umat dalam memperkuat nilai spiritual dan solidaritas sosial,” ujar Roedy.(dsn)





