Sehari Bersama Al-Qur’an, Seumur Hidup Bersama Al-Qur’an  

oleh
Ketua MPW PKS Jawa Barat H Ridwan Solichin, S.IP, M.Si

Oleh: H Ridwan Solichin, SIP, MSi

RADARSUMEDANG.id — Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Ikhwan akhwat fillah rahimakumullah,

Momentum “Sehari Bersama Al-Qur’an” yang digagas atas instruksi Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Almuzzammil Yusuf kepada seluruh DPW dan DPD sejatinya bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah peneguhan komitmen: sehari bersama Al-Qur’an untuk seumur hidup bersama Al-Qur’an.

Karena hakikat “sehari” dalam pandangan Allah bukanlah hitungan 24 jam semata. Bahkan satu hari di akhirat bisa lebih panjang dari hitungan dunia. Maka yang kita niatkan bukan sekadar duduk bersama mushaf hari ini, tetapi meneguhkan jalan hidup yang selalu terikat dengan Al-Qur’an hingga yaumul qiyamah.

Iqra: Revolusi Literasi Umat

Allah memulai wahyu pertama dengan firman-Nya:

Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq.

Perintah membaca ditujukan kepada Nabi yang ummi. Ini bukan sekadar perintah membaca teks, tetapi membaca kehidupan.

Iqra adalah:

  • Membaca ayat qauliyah (wahyu).
  • Membaca ayat kauniyah (alam semesta).
  • Membaca ayat insaniyah (realitas manusia).
  • Bahkan membaca ayat teknologiyah di era digital.

Hari ini kita hidup di zaman big data, artificial intelligence, media sosial, dan arus informasi tanpa batas. Semua itu bisa menjadi “qalam” modern — alat pencatat dan penyebar ilmu. Jika dahulu qalam adalah pena, hari ini ia bisa berupa layar, platform digital, dan teknologi komunikasi.

Tetapi prinsipnya tetap sama:
Iqra bismi rabbik.
Membaca dengan menyebut nama Allah. Mengaitkan seluruh ilmu kepada sumbernya: Allah Al-‘Alim.

Masjid dan Lima Rumah Perjuangan

Sehari bersama Al-Qur’an juga meneguhkan kembali komitmen memakmurkan masjid. Sejak hijrah Rasulullah, pembangunan umat dimulai dari Masjid Quba dan Masjid Nabawi.

Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi pusat pembinaan umat, pusat ilmu, dan pusat peradaban. Dari sinilah lahir generasi yang kuat akidahnya, cerdas pikirannya, dan kokoh ukhuwahnya.

Gerakan ini sejalan dengan lima rumah perjuangan:

  1. Rumah tangga
  2. Rumah Allah (masjid)
  3. Rumah partai
  4. Rumah kebangsaan
  5. Rumah kemanusiaan

Semua terhubung oleh nilai Al-Qur’an.

Yaumul Qur’an: Dari Tilawah ke Solusi Umat

Ikhwan akhwat rahimakumullah,

Yaumul Qur’an ke depan harus kita tingkatkan kualitasnya. Tidak hanya membaca dan mendengar ceramah, tetapi juga melahirkan pemikiran kolektif (collective genius).

Bayangkan jika di setiap DPW dan DPD:

  • Ada halaqah membahas solusi buta huruf Al-Qur’an.
  • Ada diskusi dakwah digital dan literasi AI.
  • Ada kajian tafsir tematik yang mendalam.
  • Ada pembahasan dakwah untuk generasi muda, perempuan, profesional, dan pejabat.

Data pernah menunjukkan masih banyak umat Islam yang belum bisa membaca Al-Qur’an. Ini tantangan dakwah kita. Maka Yaumul Qur’an harus melahirkan gerakan nyata.

Karena partai politik Islam tidak boleh sekadar hadir dalam kontestasi, tetapi hadir untuk menyelesaikan persoalan umat.

AI, Teknologi, dan Spirit Wasjud Waqtarib

Teknologi bukan untuk disombongkan. Allah telah mengingatkan:

Kalla innal insaana layathgha, arra’ahustaghna.

Manusia bisa melampaui batas ketika merasa cukup. Tetapi surat Al-‘Alaq ditutup dengan pesan:

Wasjud waqtarib — Sujudlah dan mendekatlah.

Artinya:

  • Semakin canggih teknologi, semakin tunduk kita kepada Allah.
  • Semakin luas literasi digital, semakin kuat kesadaran tauhid.
  • Semakin besar akses informasi, semakin dalam ketakwaan.

Inilah paradigma Islam: modern, tetapi tidak terlepas dari nilai. Mu’ashirah ghair taqlidiyah — modern tanpa kehilangan jati diri.

Al-Qur’an dan Peradaban

Sejarah membuktikan, ketika umat Islam memuliakan qalam, lahirlah pusat-pusat peradaban seperti Universitas Al-Qarawiyyin dan Al-Azhar.

Tradisi mengkaji kitab secara mendalam, bersanad, dan berulang-ulang melahirkan generasi ulama besar. Ini harus kita hidupkan kembali.

Yaumul Qur’an bisa menjadi awal kebangkitan literasi umat:

  • Literasi Al-Qur’an
  • Literasi digital
  • Literasi sosial dan kebangsaan

Semua berakar pada iqra.

Penutup: Seumur Hidup Bersama Al-Qur’an

Ikhwan akhwat fillah rahimakumullah,

Sehari bersama Al-Qur’an adalah simbol.
Yang kita bangun adalah komitmen sepanjang hayat.

Mari kita jadikan Ramadan sebagai:

  • Bulan ibadah
  • Bulan dakwah
  • Bulan sosial

Gunakan media sosial untuk dakwah. Gunakan teknologi untuk menyebarkan kebaikan. Gunakan ilmu untuk mendekat kepada Allah.

Semoga Allah mengikat hati kita dalam iman, Islam, ukhuwah, dan perjuangan yang istiqamah.
Semoga pertemuan kita di dunia menjadi sebab pertemuan terbaik di akhirat.

Mari kita tutup dengan doa dan harapan:
Ya Allah, jadikan Al-Qur’an cahaya dalam hidup kami, penuntun langkah kami, dan syafaat bagi kami di hari kiamat. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.(*)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.