RADARSUMEDANG.id, CITARUM— Suasana sore di bantaran Sungai Citarum Kampung Gajah Eretan, Desa Gajah Mekar, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung dipenuhi warga yang menunggu waktu berbuka puasa. Sejumlah pria terlihat memancing, sementara anak-anak bermain di tepian sungai yang airnya tampak keruh kecokelatan.
Di antara para pemancing itu, Rohman (45) duduk bersila sambil memperhatikan ujung jorannya. Ia mengaku rutin memancing selama Ramadan untuk memenuhi kebutuhan lauk sahur dan berbuka.
“Kalau dapat nila lumayan besar, bisa buat makan sekeluarga. Biasanya digoreng atau dibakar. Selain ikat tersebut ikan lele hingga baung kerap didapat,” ujar Asep, Senin (23/2).
Menurutnya, memancing menjadi alternatif untuk menekan pengeluaran rumah tangga, terutama saat harga kebutuhan pokok cenderung naik selama bulan puasa. Dalam sekali memancing, ia bisa membawa pulang dua hingga tiga ekor ikan.
“Lumayan tidak perlu beli lauk. Kalau hasilnya banyak, bisa buat dua kali makan,” katanya.
Selain itu, ujar dia ikan tersebut juga kerap dijual sebagai tambahan ekonomi dengan harga 12 ribu per kilogram.
“Kadang kalau dapat banyak kita jual, banyak juga pemancing lain emang niatnya menjual hasil pancingan,” ungkap dia.
Namun aktivitas tersebut berlangsung di tengah kondisi sungai yang masih menghadapi persoalan pencemaran. Bau limbah sesekali tercium ketika debit air menurun, terutama menjelang sore hari.
Sejumlah penelitian ilmiah mencatat bahwa perairan Citarum mengandung cemaran logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg) yang berasal dari limbah industri dan domestik. Zat-zat tersebut ditemukan dalam air maupun sedimen sungai.
Logam berat itu dapat terakumulasi dalam tubuh organisme air, termasuk ikan, melalui proses bioakumulasi. Ikan yang hidup di perairan tercemar berpotensi menyimpan logam berat di jaringan tubuhnya, terutama pada hati dan daging yang dikonsumsi manusia.
Dalam jangka panjang, konsumsi ikan yang terkontaminasi logam berat dapat menimbulkan risiko kesehatan. Paparan merkuri dapat memengaruhi sistem saraf, sementara timbal dan kadmium berpotensi mengganggu fungsi ginjal serta perkembangan anak jika terakumulasi secara terus-menerus.
Menanggapi temuan tersebut, Rohman mengaku pernah mendengar isu pencemaran, tetapi belum mengetahui secara rinci dampaknya terhadap ikan yang ia tangkap. Ia mengatakan belum pernah ada pemeriksaan atau sosialisasi langsung kepada warga pemancing.
“Kalau memang berbahaya, kami juga ingin tahu. Soalnya ini dimakan sendiri, buat keluarga. Apalagi anak-anak ikut makan,” ujarnya.
Meski mengaku khawatir, Asep mengatakan tidak memiliki banyak pilihan lain untuk mendapatkan sumber protein murah selain memancing di sungai yang lokasinya dekat dari rumahnya.
Ramadan di bantaran Citarum pun memperlihatkan dua kenyataan yang berjalan berdampingan: kebersamaan warga menanti azan magrib sambil memancing, dan bayang-bayang pencemaran yang berpotensi ikut tersaji di meja sahur dan berbuka.(kus)





