Gagal di Lomba Lokal, Siswa SMPN 2 Cimahi Justru Juara Dunia Foto UNESCO

oleh
Tampak dari depan gedung bangunan SMP Negeri 2, tempat Yudha Pramudya menempuh pendidikannya yang terletak di Jalan Jendral Sudirman, Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Kamis (1/10/2026). (Alfandy Septiansyah Putra/radarbandung)

RADARSUMEDANG.id — Kekalahan di lomba foto tingkat Cimahi tidak membuat Yudha Pramudya (15) berhenti. Siswa kelas IX SMPN 2 Cimahi itu mencoba lagi di level yang jauh lebih tinggi. Kini namanya tercatat sebagai juara pertama kompetisi fotografi internasional UNESCO Youth Eyes on the Silk Roads edisi ke-8 tahun 2026.

Karyanya berjudul “A Legacy in Every Carving” menjadi yang terbaik di kategori usia 14–17 tahun. Foto itu dipilih dari lebih dari 7.000 kiriman peserta dari 100 negara. Penilaian mencakup oridinalitas, kekhasan tema, dan kekuatan visual dalam menyampaikan makna warisan budaya yang hidup.

Bagi Yudha, kemenangan ini terasa istimewa karena ia pernah merasakan kegagalan. Ia mengaku sempat mengikuti lomba lokal di lingkungan Cimahi dan belum berhasil.

“Dulu saya sempat ikut lomba foto di Cimahi, tapi belum menang, terus sekarang saya coba lagi yang tingkat internasional, ternyata hasilnya berbeda, saya juga ngga nyangka,” ujar Yudha, Kamis (1/10/2026).

Dirinya juga mengaku tujuan awal mengikuti lomba tersebut, yaitu hanya mencari pengalaman dan bekal untuk melanjutkan ke sekolah kejuruan impiannya. Ia mengetahui lomba tersebut dari unggahan Instagram pada akhir Juni 2026, lalu langsung mendaftar.

“Alhamdulillah, awalnya saya kaget saat buka emailnya, ternyata ngga nyangka karena bisa menjuarai lombanya, padahal tujuannya waktu itu hanya ingin menambah oengalaman dan bekal buat masuk Smk impian,” katanya.

Tema tahun ini adalah “Living Heritage”, warisan budaya yang hidup. Yudha mulai dengan mencari pengrajin wayang golek di kawasan Jelekong, Kabupaten Bandung, tetapi belum menemukan objek yang cocok. Ia tidak menyerah dan kemudian bertemu pengrajin kayu Jepara di Antapani, Kota Bandung. Setelah meminta izin, ia memotret langsung di lokasi dengan kamera pribadinya.

“Sebelumnya saya sebenanrnya ingin memotret pengrajin wayang golek di Jelekong tapi ngga nemu, terus ketemu pengrajin kayu jepara, saya tertarik karena ukiran kayu jepara kan rumit nah pasti setiap ukiran itu ada emosi dari pengrajinnya,” ungkapnya.

Foto yang ia kirim menangkap pengrajin yang menunduk, berkonsentrasi menggoreskan pahat ke permukaan kayu. Yudha menjelaskan bahwa ia tidak sekedar hanya ingin mengabadikan aktivitas. Ia ingin memperlihatkan ketelitian dan perasaan sang pengrajin, serta warisan yang hidup dalam setiap pahatan dan diturunkan lintas generasi.

Dua foto dikirim lewat laman resmi lomba. Keduanya murni hasil jepretan sendiri tanpa bantuan kecerdasan buatan (AI), sesuai ketentuan. Penantian berakhir pada 20 September 2026, ketika notifikasi masuk ke emailnya dan menyatakan ia sebagai pemenang utama. Yudha langsung memberi tahu orang tuanya begitu pulang sekolah.

“Setelah tahu saya juara, saat pulang sekolah langsung ngasih tahu orang tua,” tuturnya.

Minat Yudha pada fotografi tumbuh sejak SMP, terinspirasi dari seorang teman yang kerap mengabadikan momen dengan kamera. Ia bergabung dengan ekstrakurikuler fotografi di sekolahnya dan belajar teknik dasar, komposisi, serta ketelitian memotret.

Pembimbing ekskul, Nugraha Mukti, mengatakan sudah melihat foto itu sebelum dikirim dan menilainya bagus. Ia mendorong Yudha untuk terus berkarya, lalu kabar kemenangan datang tiba-tiba.

“Sebelum Yudha mengirimnya, sebenanrnya saya sudah melihat hasil foto-fotonya, dan saya katakan bahwa hasil jepretannya bagus, saya berpesan kepadanya untuk terus berkaya.

Menurut Nugraha, siswa di ekskul tersebut sudah memahami teknik dasar dan aktif berkarya, dan Yudha menjadi salah satu yang membuktikannya.

“Siswa yang mengikuti ekstrakulikuler fotografi disini memang rata-rata sudah memahi teknik dasarnya dan mereka sering membuat karya, dan Yudha membuktikan hal tersebut,” pungkasnya.

Perjalanan Yudha dari kekalahan di Cimahi hingga podium dunia kini membuka langkah berikutnya. Ia berencana melanjutkan ke SMK Negeri 1 Cimahi, dengan cita-cita yang makin kuat, yaitu menjadi fotografer di Istana Negara.

Yang lebih membuat bangga, karya Yudha akan dimuat dalam buku album foto resmi UNESCO, “Youth Lens on the Silk Roads”, dan berpeluang dipamerkan dalam eksibisi UNESCO di tingkal Internasional. (ASP/job)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.