Oleh: K.H. Drs. Zaenal Alimin, M.M.
(Ketua II MUI Kabupaten Sumedang)
RADARSUMEDANG.id — BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, serta umatnya hingga akhir zaman. Aamiin.
Hadirnya bulan Ramadan 1447 H merupakan rahmat besar dari Allah SWT. Kita masih diberi usia dan kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan penuh berkah ini. Ramadan menjadi momentum untuk melakukan introspeksi dan evaluasi diri terkait kualitas iman, Islam, dan ihsan kita. Dari evaluasi tersebut, diharapkan lahir upaya nyata untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas amal saleh yang bermuara pada ketakwaan kepada Allah SWT.
Dalam setiap amal perbuatan, niat menempati posisi yang sangat penting. Niat adalah proses awal dari setiap amal. Karena itu, kita tidak boleh lengah dan menganggap sepele persoalan niat. Nilai sebuah amal sangat ditentukan oleh niat yang melatarbelakanginya.
Dalam sebuah hadis qudsi dijelaskan bahwa apabila seseorang berniat melakukan kebaikan, maka sudah dicatat baginya satu pahala. Jika niat baik tersebut dilaksanakan, Allah SWT melipatgandakan balasannya hingga sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Sebaliknya, jika seseorang berniat buruk namun tidak melaksanakannya, maka tidak dicatat sebagai dosa. Namun apabila niat buruk itu diwujudkan dalam perbuatan, maka dicatat sebagai satu dosa.
Oleh sebab itu, sekecil apa pun niat buruk hendaknya tidak dibiarkan bersemayam dalam hati. Niat yang tidak lurus dapat merusak nilai amal dan menghapus keberkahan. Terlebih pada bulan Ramadan, saat Allah SWT membuka pintu rahmat dan melipatgandakan pahala bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh beribadah.
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Demikian pula orang yang melaksanakan salat tarawih dengan iman dan penuh keikhlasan, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Bahkan, siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap ridha Allah, juga akan memperoleh ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu.
Allah SWT memerintahkan agar setiap ibadah dilakukan dengan penuh keikhlasan semata-mata karena-Nya (QS Al-Bayyinah: 5). Nabi SAW juga menegaskan bahwa setiap amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Jika niat beramal semata-mata karena Allah dan Rasul-Nya, maka balasannya adalah ridha Allah SWT. Namun jika niatnya hanya untuk kepentingan duniawi, maka yang diperoleh pun sebatas kepentingan duniawi semata.
Dengan demikian, keutamaan niat menjadi hal yang sangat mendasar dalam setiap ibadah. Ramadan adalah saat yang tepat untuk meluruskan kembali niat, membersihkan hati dari riya dan kepentingan duniawi, serta mengarahkan seluruh amal hanya untuk mengharap ridha Allah SWT.
Semoga kita mampu menjaga dan meluruskan niat dalam setiap amal, sehingga ibadah yang kita lakukan bernilai di sisi Allah SWT. Aamiin. Wallaahu a’lam. (*)






