- Panti Baca Ceria gelar Menjaras Memori Kolektif Jilid 2 di Sumedang.
- Diskusi angkat pentingnya dokumentasi tradisi lisan menjadi tulisan.
- Libatkan akademisi, peneliti budaya, hingga juru kunci.
- Tradisi lisan disebut sebagai arsip hidup yang perlu dilestarikan.
- Kegiatan dorong kolaborasi pelestarian budaya lintas generasi.
RADARSUMEDANG.id, KOTA – Panti Baca Ceria kembali menyelenggarakan program tahunan bertajuk Menjaras Memori Kolektif Jilid 2 yang digelar di Pendopo Kecamatan Sumedang Utara, Minggu (29/3/2026).
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, peneliti budaya, perwakilan Karaton Sumedang Larang, hingga pegiat kebudayaan. Diskusi mengusung tema “Pentingnya Mendokumentasikan Tradisi Lisan Menjadi Tulisan”.
Dalam forum tersebut, para narasumber menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan tradisi lisan sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat, sekaligus mendorong upaya dokumentasi dalam bentuk tulisan.
Para pemateri menegaskan bahwa tradisi lisan dan tulisan bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi. Tradisi lisan dipandang sebagai “arsip hidup” yang menyimpan nilai, rasa, dan penghayatan budaya, sementara tulisan menjadi media penting untuk menjaga keberlanjutan pengetahuan lintas generasi.
Diskusi juga mengulas berbagai tantangan dalam pelestarian budaya, mulai dari kesenjangan pemahaman antar generasi, kendala bahasa dalam penelitian, hingga persepsi masyarakat terhadap peneliti.
Selain itu, pentingnya menjaga keotentikan data melalui metode observasi, wawancara, dan studi dokumentasi turut menjadi perhatian utama dalam pembahasan.
Isu lain yang mencuat adalah dilema pelaku seni dalam memvisualisasikan tokoh budaya yang kerap dihadapkan pada batasan adat dan anggapan “pamali”. Para narasumber sepakat perlunya riset mendalam, proses verifikasi, serta kesepakatan bersama agar karya tetap menghormati nilai budaya sekaligus relevan dengan perkembangan zaman.
Pendiri Panti Baca Ceria, Ipul Saepulloh, menyampaikan bahwa program ini merupakan agenda tahunan yang terus dikembangkan, dengan pendekatan yang berbeda pada tahun ini.
“Tahun ini menjadi istimewa karena peserta yang terlibat bukan hanya peneliti atau pegiat literasi, tetapi para pelaku langsung—juru kunci dan pegiat tradisi lisan. Mereka adalah penjaga pengetahuan itu sendiri,” ujarnya kepada Radar Sumedang.
Ia menambahkan, kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada hasil berupa buku, tetapi juga sebagai upaya meninggalkan jejak pengetahuan bagi generasi mendatang.
Melalui kegiatan ini, Panti Baca Ceria mendorong kolaborasi lintas pihak dalam pelestarian budaya, sekaligus memperkuat peran masyarakat sebagai subjek utama dalam menjaga dan mengembangkan tradisi lisan di tengah perubahan zaman.
“Harapannya, melalui kegiatan ini tidak hanya menghasilkan karya tulis, tetapi juga menjadi jejak penting yang bisa diwariskan untuk generasi selanjutnya, agar tradisi yang ada tidak hilang begitu saja,” jelas Ipul. (jim)





