Kartu Merah untuk Prabowo-Gibran Menggema di DPRD Jabar, Mahasiswa Gelar Aksi Teatrikal

oleh
Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Bandung yang tergabung dalam BEM Serikat Indonesia (BSI) Jabar menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jabar, Rabu (17/6). Aksi Kartu Merah untuk Prabowo-Gibran, menyoroti kemunduran demokrasi dan kebijakan publik yang dinilai mengabaikan aspirasi masyarakat. (Diwan Sapta Nurmawan/Radar Bandung)

BERITA SINGKAT

  • Ratusan mahasiswa dari 23 kampus yang tergabung dalam BEM Serikat Indonesia (BSI) Jawa Barat menggelar aksi di depan DPRD Jabar.
  • Mahasiswa secara simbolis memberikan kartu merah kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
  • Aksi diwarnai pertunjukan teatrikal sebagai bentuk kritik terhadap jalannya pemerintahan.
  • Mahasiswa menyoroti isu demokrasi, kebijakan publik, dan respons pemerintah terhadap aspirasi masyarakat.
  • Demonstrasi berlangsung tertib dengan pengamanan aparat kepolisian di sekitar lokasi aksi.

RADARSUMEDANG.id, BANDUNG – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam BEM Serikat Indonesia (BSI) Jawa Barat menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Rabu (17/6/2026). Dalam aksi tersebut, mahasiswa secara simbolis memberikan kartu merah kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai bentuk kritik terhadap jalannya pemerintahan.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 15.30 WIB itu diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Bandung. Mereka menyuarakan sejumlah tuntutan serta kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah pusat yang dinilai belum berpihak kepada rakyat dan kurang mengakomodasi aspirasi publik.

Salah satu momen yang menyita perhatian dalam demonstrasi tersebut adalah pertunjukan teatrikal yang menggambarkan hukuman pancung terhadap mahasiswa yang mengenakan topeng wajah Prabowo dan Gibran. Aksi simbolik itu ditampilkan sebagai ekspresi kekecewaan terhadap kepemimpinan nasional saat ini.

Selain membawa berbagai atribut aksi, massa juga membentangkan spanduk dan poster berisi kritik terhadap pemerintahan. Beragam tulisan yang dibawa peserta menyoroti sejumlah isu yang menurut mereka belum mendapatkan respons memadai dari pemerintah.

Secara bergantian, mahasiswa menyampaikan orasi dari atas mobil komando. Dalam orasinya, mereka menyoroti persoalan demokrasi, kebijakan publik, hingga pola komunikasi pemerintah yang dinilai semakin menjauh dari harapan masyarakat.

Pengamanan ketat terlihat di sekitar lokasi aksi. Aparat kepolisian disiagakan di sejumlah titik di sekitar Gedung DPRD Jawa Barat untuk memastikan kegiatan berlangsung aman dan tertib.

Meski diwarnai kritik keras terhadap pemerintah, aksi berlangsung kondusif. Tidak terlihat adanya bentrokan maupun gangguan keamanan selama mahasiswa menyampaikan aspirasi mereka.

Koordinator aksi, Muhammad Risaldi, mengatakan demonstrasi tersebut melibatkan mahasiswa dari 23 kampus yang tergabung dalam BEM Serikat Indonesia Jawa Barat. Menurutnya, aksi itu merupakan akumulasi kekecewaan yang selama ini dirasakan kalangan mahasiswa.

Risaldi menilai berbagai aspirasi yang telah disampaikan mahasiswa dalam sejumlah kesempatan sebelumnya belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Karena itu, mahasiswa memilih turun ke jalan untuk menyuarakan kritik secara terbuka.

“Ini merupakan salah satu bentuk kekecewaan kami dan akumulasi kemarahan kami yang selalu menyampaikan aspirasi namun tidak didengar, dan juga akumulasi kemarahan daripada statement-statement yang tidak penting oleh Prabowo sebagai presiden,” ujar Risaldi dalam orasinya, Rabu (17/6/2026).

Menurut Risaldi, gerakan mahasiswa tidak hanya bertujuan menyampaikan kritik, tetapi juga mengingatkan pemerintah agar lebih responsif terhadap berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

Ia menegaskan mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal jalannya pemerintahan dan memastikan setiap kebijakan yang diambil tetap berpihak pada kepentingan publik. Karena itu, aksi demonstrasi dinilai sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial dalam sistem demokrasi.

Selama aksi berlangsung, massa beberapa kali meneriakkan yel-yel kritik terhadap pemerintah. Pengeras suara dari mobil komando terus digunakan untuk menyampaikan berbagai tuntutan yang dibawa mahasiswa.

Demonstrasi tersebut juga menarik perhatian pengguna jalan yang melintas di kawasan Jalan Diponegoro. Sejumlah warga tampak berhenti sejenak untuk menyaksikan jalannya aksi dari luar area pengamanan.

Mahasiswa menyatakan akan terus mengawal berbagai kebijakan pemerintah dan membuka kemungkinan menggelar aksi lanjutan apabila tuntutan maupun kritik yang mereka sampaikan tidak mendapatkan respons. Aksi di depan DPRD Jawa Barat itu menjadi salah satu demonstrasi mahasiswa terbesar di Bandung yang menyoroti kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran pada pertengahan tahun 2026.

Penulis: Dsn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.