RADARSUMEDANG.id, KOTA – Guru di lingkungan Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengajar. Lebih dari itu, setiap guru dituntut menjadi teladan dalam sikap, ibadah, dan pengabdian. Sebab, pendidikan yang paling membekas bagi peserta didik bukan hanya berasal dari ucapan, melainkan dari contoh nyata yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah, KH Sa’dulloh, SQ., M.MPd., saat memberikan pembekalan kepada guru-guru baru Yayasan Pendidikan Islam Mohammad Aliyuddin (YAPISMA) dalam kegiatan orientasi yang digelar di Aula YAPISMA, Sabtu (18/7/2026).
Dalam arahannya, KH Sa’dulloh menegaskan bahwa seorang guru harus lebih dahulu mengamalkan ilmu yang diajarkannya. Ketika mengajak santri mengaji, guru harus ikut hadir dan mengaji. Saat mengajak santri melaksanakan salat berjamaah, guru juga harus berada di saf terdepan sebagai contoh. Demikian pula ketika mendorong santri menghafal Al-Qur’an, guru dituntut terus menjaga dan melancarkan hafalannya.
“Keteladanan adalah kunci keberhasilan pendidikan. Santri bukan hanya mendengar apa yang disampaikan gurunya, tetapi juga melihat bagaimana gurunya bersikap, berbicara, beribadah, dan berinteraksi dengan orang lain. Dari situlah karakter mereka terbentuk,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa menjadi guru di Al-Hikam bukan sekadar menjalankan profesi, melainkan sebuah amanah pengabdian. Guru tidak boleh hanya datang saat jam pelajaran, mengajar di kelas, lalu pulang sambil menunggu honor atau gaji.
Menurutnya, guru merupakan bagian dari keluarga besar pesantren yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik, membimbing, sekaligus mendampingi santri dalam setiap proses pembinaan.
Dalam menjalankan tugasnya, seluruh guru diwajibkan menerapkan kurikulum terintegrasi yang memadukan kurikulum nasional dengan kurikulum kepesantrenan. Proses pembelajaran pun harus sejalan dengan nilai-nilai pendidikan pesantren agar tidak hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak yang baik.
Selain aspek akademik, sistem evaluasi di Al-Hikam juga menitikberatkan pada perkembangan nonakademik, seperti akhlak, kedisiplinan, ibadah, dan pembentukan karakter santri. Karena itu, setiap guru dituntut memiliki disiplin tinggi, menaati kode etik, serta mematuhi seluruh aturan yang berlaku di lingkungan pesantren.
KH Sa’dulloh menegaskan, menjadi guru di Al-Hikam merupakan amanah yang mulia. Selain sebagai jalan mencari nafkah, profesi guru juga menjadi ladang pengabdian dan perjuangan dalam mencetak generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan berjiwa Qurani.
“Guru yang baik akan melahirkan murid yang cerdas. Namun, guru yang mampu menjadi teladan akan melahirkan generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berkarakter,” pungkasnya. (rik)







