RADARSUMEDANG.id, UJUNGJAYA – Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Sumedang yang menjadi proyek percontohan nasional tidak hanya menerima siswa asal Kabupaten Sumedang, tetapi juga menampung puluhan pelajar dari Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Garut.
Di tengah statusnya sebagai sekolah perintis, pembentukan karakter siswa langsung menjadi perhatian melalui edukasi pencegahan perundungan (bullying) pada kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Jumat (17/7).
Pembekalan tersebut disampaikan Kasat Reskrim Polres Sumedang AKP Tanwin Nopiansah kepada ratusan peserta didik baru di Kampus SRT 1 Sumedang, Desa Keboncau, Kecamatan Ujungjaya.
Tanwin menegaskan, lingkungan belajar yang dihuni siswa dari berbagai daerah harus dibangun di atas sikap saling menghormati dan bebas dari tindakan perundungan.
“Anak yang mengalami perundungan sering kali menunjukkan gejala perubahan perilaku. Salah satunya adalah muncul rasa takut yang mendalam dan keengganan untuk melangkah kaki ke sekolah,” kata Tanwin.
Menurutnya, bullying bukan sekadar kenakalan remaja, melainkan tindakan yang dapat berdampak panjang terhadap kondisi psikologis, rasa percaya diri, hingga prestasi akademik korban.
Karena itu, ia mengajak semua siswa untuk saling menghargai dan berani melaporkan apabila menemukan tindakan perundungan di lingkungan sekolah.
“Bullying menyimlan bahaya laten yang sangat serius, dan mampu merusak korbannya secara mental maupun akademis,” ujarnya.
Materi disampaikan secara interaktif dengan melibatkan siswa dalam sesi tanya jawab. Sejumlah peserta diminta maju ke depan untuk menyampaikan pandangan mereka mengenai dampak bullying, yang disambut antusias oleh siswa baru.
Selain menerima peserta didik dari Sumedang, SRT 1 Sumedang juga menjadi tempat belajar sementara bagi 60 siswa asal Kota Tasikmalaya dan 30 siswa asal Kabupaten Garut. Penempatan tersebut dilakukan karena pembangunan gedung Sekolah Rakyat di kedua daerah tersebut masih berlangsung.
Keberadaan siswa lintas daerah tersebut menjadikan pembentukan budaya sekolah yang aman, inklusif, dan bebas perundungan sebagai salah satu fokus utama sejak hari pertama pelaksanaan MPLS. (gun)






