RADARSUMEDANG.ID – Yayasan Bakti Mulya Sulthana resmi didirikan sekaligus menjadi momentum mengenang 40 hari wafatnya Dr. Bambang Setya Aam Sulthana (alm). Dalam kesempatan tersebut, turut diluncurkan Pusat Kegiatan Agama dan Sosial Hj. Toty Yarnasih.
Kegiatan peresmian berlangsung di Yayasan Bakti Mulya Sulthana, Lingkungan Warung Jambu Sawah Bera, Kelurahan Pasanggrahan Baru, Kecamatan Sumedang Selatan, Sabtu (15/8/2026).
Acara dihadiri keluarga besar almarhum, warga setempat, serta sejumlah pemangku kepentingan di wilayah Kelurahan Pasanggrahan Baru dan Kecamatan Sumedang Selatan.
Pengurus Yayasan Bakti Mulya Sulthana, Drs. Jajang Mahfudin, mengatakan kegiatan tersebut dilaksanakan sesuai amanah pimpinan yayasan dengan mengedepankan dua bidang utama, yakni kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.
Menurut Jajang, kegiatan keagamaan di yayasan tersebut sudah mulai berjalan melalui Majelis Taklim yang telah dilaksanakan selama kurang lebih dua bulan.
“Alhamdulillah untuk kegiatan keagamaan sudah berjalan dan tergabung dalam Majelis Taklim yang sudah berjalan selama dua bulan. Selain ibu-ibu ada bapak-bapaknya juga. Mudah-mudahan yayasan kami mendapat ridho dari Allah,” kata Jajang.
Ia menjelaskan, pendirian yayasan tersebut tidak terlepas dari niat keluarga almarhum untuk mewakafkan aset yang dimiliki agar dapat dimanfaatkan bagi kepentingan keagamaan dan sosial masyarakat, khususnya di lingkungan Warung Jambu Sawah Bera.
Jajang juga menyampaikan doa agar amal ibadah almarhum Dr. Bambang Setya Aam Sulthana diterima di sisi Allah SWT, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan kesabaran.
“Setelah peresmian ini, kami mendoakan semoga almarhum selamanya ada dalam rahmat Allah SWT. Keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan kesabaran, serta anak-anaknya menjadi anak-anak yang saleh dan salehah,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan Yayasan Bakti Mulya Sulthana dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui berbagai kegiatan keagamaan maupun sosial.
Sementara itu, Camat Sumedang Selatan Idi Suhandi mengapresiasi langkah keluarga besar almarhum yang mewakafkan asetnya untuk dijadikan yayasan dan pusat kegiatan masyarakat.
Menurutnya, wakaf merupakan salah satu bentuk amal kebajikan yang manfaatnya dapat terus dirasakan selama aset tersebut digunakan untuk kepentingan masyarakat.
“Ketika suatu tempat atau bangunan diwakafkan untuk pendidikan, kesehatan, keagamaan dan kemaslahatan masyarakat, insya Allah selama digunakan untuk kebaikan maka akan menjadi amal ibadah bagi yang mewakafkan,” kata Idi.
Ia menilai langkah keluarga almarhum tersebut patut diapresiasi karena tidak semua orang mampu dan bersedia mewakafkan aset yang dimilikinya untuk kepentingan masyarakat.
“Beliau telah mewakafkan asetnya, dan tidak semua orang bisa melakukan. Jadi sangat jarang dalam kondisi saat ini ada yang mewakafkan bangunan atau aset,” ujarnya.
Idi pun mengajak Ketua RW dan masyarakat setempat untuk bersama-sama memanfaatkan keberadaan yayasan tersebut, khususnya dalam mengembangkan kegiatan keagamaan dan sosial di lingkungan sekitar.
Ia menegaskan, Pemerintah Kecamatan Sumedang Selatan siap mendukung keberadaan Yayasan Bakti Mulya Sulthana selama kegiatan yang dilaksanakan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami selaku pembina di kewilayahan Sumedang Selatan sangat support. Selama bangunan ini digunakan untuk kemaslahatan, insya Allah amal kebaikan akan mengalir kepada almarhum,” katanya.
Namun demikian, Idi mengingatkan agar seluruh kegiatan yang dilaksanakan di yayasan tetap berkoordinasi dan bersinergi dengan pemerintah kewilayahan. Hal itu dilakukan untuk memastikan seluruh aktivitas berjalan dengan baik serta memberikan manfaat yang jelas bagi masyarakat.
“Semua kegiatan yang dilaksanakan di rumah ini harus sinergi dan koordinasi dengan pemerintah seperti kecamatan, supaya tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan dan harus terasa manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.
Idi juga mengaitkan keberadaan yayasan tersebut dengan semangat pembangunan yang tengah didorong Pemerintah Kabupaten Sumedang, yakni kegiatan yang kadeuleu, karampa, karasa atau dapat terlihat, tersentuh, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Termasuk dengan berdirinya yayasan ini harus kelihatan oleh masyarakat, harus pelayanan kepada masyarakat, terasa manfaatnya,” pungkasnya. (jim)






