Pupuk Kimia Mahal, Petani Subang Manfaatkan Limbah Sapi untuk Tanaman Jagung di Lahan Demplot

oleh
Aktifitas petani Jagung di lahan percontohan Kp. Cinengah Desa Curugrendeng, Kabupaten Subang.

RADARSUMEDANG.id, SUBANG-Kekurangan dan mahalnya alokasi pupuk kimia dari pemerintah dapat menjadi peluang untuk mendorong penggunaan pupuk organik. Pesan ini disampaikan oleh seorang petani bernama Endang Setiawan saat meniinjau lahan percontohan atau
Demonstration Plot (Demplot) tanaman Jagung di Kampung Cinengah, Desa Curugrendeng, Kabupaten Subang.

Di tengah hamparan tanaman jagung, pria yang akrab disapa Endang ini turun langsung ke area lahan. Benih jagung berusia dua minggu sejak masa tanam, tampak sudah menunjukkan pertumbuhan yang cukup pesat dengan daun yang lebar dan hijau segar.

Menariknya, tanaman jagung itu tidak mengunakan jenis pupuk kimia akan tetapi penggunaan pupuk organik berbahan padat (kotoran sapi ) dan limbah cairnya, sebagai upaya mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk berbahan kimia.

Kegiatan tersebut yang digagas oleh Endang, yang kini masih menjabat Kepala Desa Sagalaherang Kidul. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini melibatkan kolaborasi dengan warga sekitar, termasuk pemanfaatan limbah yang diajukan dari PT Agrijaya Prima Sukses (APS) yang mengelola peternakan Sapi di wilayah yang tidak jauh dari lokasi kegiatan penanaman Jagung untuk mendukung pengembangan pertanian organik.

“Dari total lahan sekitar 11 hektare, sebanyak 8 hektare di antaranya mulai dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman jagung. Kegiatan pertanian ini juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat dengan melibatkan sekitar 30 tenaga kerja harian atau HOK, dengan upah Rp100 ribu per orang, ” ucap Endang, Kamis (27/8/2026).

Menurut Endang, penggunaan pupuk organik dari limbah sapi menjadi salah satu alternatif yang ingin terus dikembangkan karena dinilai mampu membantu petani menekan biaya produksi sekaligus mengurangi penggunaan bahan kimia secara berlebihan.

Selain itu, kondisi alam di wilayah tersebut juga menjadi keuntungan tersendiri. Lahan pertanian mendapatkan dukungan sumber air dari aliran Curug Sundan sehingga kebutuhan pengairan relatif lebih mudah dipenuhi.

“Untuk masa panen, jagung konsumsi diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 90 hari, sedangkan jagung yang dipersiapkan untuk kebutuhan pembibitan membutuhkan waktu kurang lebih 100 hari, ” Jelasnya.

Potensi hasilnya pun cukup menjanjikan. Dalam satu hektare lahan, tanaman jagung pakan diproyeksikan dapat menghasilkan sekitar 25 ton. Sementara untuk kebutuhan pembibitan, hasilnya berkisar antara 6 hingga 7 ton per hektare.

Salah seorang petani yang bekerja, Mang Ajat, turut melihat langsung perkembangan tanaman jagung di lahan percontohan tersebut. Menurutnya, pertumbuhan tanaman yang baru berusia dua minggu itu cukup menggembirakan.

“Baru dua minggu sudah terlihat tumbuh bagus, daunnya juga lebar. Mudah-mudahan hasilnya nanti sesuai harapan dan bisa menjadi contoh bagi petani lainnya,” ujarnya.

Demplot ini diharapkan bukan sekadar menjadi lahan menanam jagung, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama bagi petani. Dari limbah yang selama ini mungkin dipandang sebelah mata, kini muncul harapan baru untuk menghadirkan pertanian yang lebih hemat, ramah lingkungan, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Jika uji coba ini berhasil, bukan tidak mungkin Kp. Cinengah akan memiliki cerita sendiri: dari limbah sapi, tumbuh jagung dan harapan bagi para petani.

Bagi petani bagi yang membutuhkan bisa datang ke lokasi Demplot tersebut yang berada di Desa Curugrendeng Kampung Cinengah. (Anr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.