RADARSUMEDANG.id, BANDUNG BARAT — Kabut masih menggantung tipis di lembah ketika Hendar (36) melangkah menuju petak tanah miliknya di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Mengenakan sepatu boots hijau yang sudah belepotan lumpur kering, celana kerja penuh noda tanah, dan topi yang menutupi wajahnya dari terik pagi.
Di tangannya, sebuah garpu tanah satu-satunya senjata yang ia punya untuk melawan bongkahan batu dan tanah keras yang menimbun lahannya.
Punggungnya membungkuk. Kaki kanannya bertumpu pada garpu tanah, mencoba menekan besi itu masuk ke tanah yang sudah sekeras batu.
Di kejauhan, di seberang lembah, petak-petak sayuran hijau milik warga lain terlihat subur, teratur, hidup. Tapi tanah yang ia pijak sekarang hanya menyisakan bongkahan cokelat pucat, retakan tanah kering, dan puing yang belum juga terangkat.
Hendar adalah satu dari puluhan warga yang oleh peneliti disebut korban tidak langsung bencana yang melanda kawasan ini sekitar tujuh bulan lalu. Rumahnya masih berdiri.
Namanya tidak tercatat dalam daftar korban jiwa. Ia tidak menerima santunan, tidak menerima bantuan relokasi. Tapi ia kehilangan sesuatu yang bagi dirinya sama pentingnya dengan atap di atas kepala: lahan tempat ia menggantungkan hidup selama bertahun-tahun.
“Ini lahan satu-satunya yang saya punya. Enggak ada sawah lain, enggak ada kerjaan sampingan yang bisa diandalkan, cuma ini, tapi sekarang malah tertimbun lumpur dan batu yang udah keras kaya semen,” katanya.
Tidak ada alat berat yang datang membantunya. Tidak ada janji pasti kapan pemerintah akan menuntaskan pengangkatan batu-batu besar yang masih bersarang di lahannya. Yang ada hanya Hendar, garpu tanahnya, dan waktu.
“Enggak ada yang bantu, ya saya kerjain sendiri aja pelan-pelan. Daripada enggak ada usaha sama sekali,” katanya.
Setiap hari, ia turun ke lahan itu sendirian. Mencongkel satu per satu batu yang tertancap. Menggali tanah yang mengeras karena terlalu lama terpapar matahari dan hujan bergantian.
Tak ada bantuan tenaga dari siapa pun. Hasilnya pun tak sebanding dengan tenaga yang ia keluarkan luas lahan yang bisa ia bersihkan dalam sehari kadang tak lebih dari beberapa meter persegi.
“Emang capek, kadang enggak keliatan hasilnya. Tapi kalau saya berenti, terus lahan ini mau diapain,” ujarnya.
Bagi sebagian orang, itu mungkin terlihat seperti kerja sia-sia melawan alam yang sudah telanjur berubah. Tapi bagi Hendar, itu adalah satu-satunya cara ia bisa mempertahankan harapan bahwa suatu hari lahan itu akan kembali bisa ditanami kembali menjadi kebun sayur yang menafkahi keluarganya.
Yang membuat Hendar paling lelah bukan hanya beratnya pekerjaan fisik itu, melainkan ketidakpastian. Ia mengaku sedih dan frustrasi karena hingga kini belum ada kejelasan dari pemerintah kapan proses pemulihan lahannya akan rampung.
Ironisnya, penyelesaian masalah ini tidak sesederhana mengangkat batu dan menjualnya, seperti yang sebenarnya banyak diminati pembeli. Ada pertimbangan keamanan yang lebih besar.
Mengangkat batu-batu itu berisiko mengganggu kestabilan tanah di sekitarnya, termasuk rumah-rumah warga yang berdiri di dekat lahan. Karena itu, prosesnya menunggu kajian dari ahli geologi sesuatu yang bagi Hendar terasa jauh dan abstrak dibanding kebutuhan mendesaknya untuk kembali bekerja.
“Saya ngerti sih katanya demi keamanan juga. Tapi kalau nunggu terus, saya makan dari mana,” ujarnya pelan.
Kisah Hendar bukan kisah tunggal. Ia mewakili banyak warga lain yang kehilangan mata pencaharian meski rumah mereka tak roboh, meski nama mereka tak masuk daftar korban jiwa kelompok yang kerap luput dari perhatian meski penderitaannya nyata dan berlangsung setiap hari. (MNA/job)






