Oleh: Naya Sunarya*
RADARSUMEDANG.id — Musda XI Partai Golkar Kabupaten Sumedang yang akan datang bukan sekadar agenda pergantian pengurus. Ini adalah momen penentuan arah perjalanan kita untuk lima tahun ke depan — periode 2026–2031. Dalam rentang waktu itu, kita menghadapi dua medan tempur besar berturut-turut: Pemilu Nasional tahun 2029 dan Pilkada Serentak sekitar tahun 2031, menyusul putusan Mahkamah Konstitusi yang memisahkan jadwal pemilu nasional dan daerah. Pilihan kita di Musda ini akan menentukan: apakah Golkar Sumedang menjadi partai yang modern, solid, dan berkinerja tinggi — atau justru tertinggal di tengah perubahan zaman.
Musda adalah pesta demokrasi internal kita. Namun lebih dari itu, Musda adalah wadah di mana kita menyatukan tekad untuk memenangkan kembali kepercayaan rakyat Sumedang. Dan kunci utamanya ada pada satu hal: siapa figur yang kita percayai untuk menahkodai kapal besar ini.
Bukan Sekadar Jabatan, Tapi Amanah dan Tujuan
Seringkali dalam proses Musda, perbincangan berputar pada nama, kedekatan, atau sekadar syarat administrasi. Padahal yang jauh lebih mendesak adalah bertanya: figur seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan Golkar Sumedang saat ini? Bukan figur yang hanya pandai berbicara di depan kader, melainkan sosok yang mampu bekerja di tengah masyarakat, membangun kebersamaan, dan menghasilkan kemenangan di bilik suara.
Kita tidak membutuhkan pemimpin yang hanya mengisi kursi. Kita membutuhkan pemimpin yang mampu menggerakkan seluruh kekuatan partai dari tingkat kabupaten hingga ke pelosok desa dan TPS. Pemimpin yang tidak memandang kader berdasarkan kelompok atau asal-usul, melainkan menyatukan seluruh elemen — organisasi pendiri, sayap partai, organisasi yang didirikan partai — dalam satu ikrar: Golkar menang di Sumedang.
Enam Jejak Wajib Pemimpin Golkar Sumedang 2026–2031
Jika kita merenungkan kebutuhan nyata partai dan rakyat Sumedang, serta realitas budaya politik yang hidup di tubuh organisasi kita, maka sosok yang kita pilih nanti harus memiliki enam kualitas utama, meliputi syarat tertulis maupun yang tumbuh dan dihayati bersama:
Pertama, ia harus pemimpin yang berintegritas dan berwibawa. Di masa kepercayaan publik terhadap partai politik sedang diuji, pemimpin Golkar harus menjadi teladan. Rekam jejak yang bersih, kata yang sama dengan perbuatan, dan keadilan dalam memperlakukan setiap kader tanpa pandang bulu — itulah modal utama. Tanpa integritas, sehebat apa pun strategi akan runtuh karena tidak didasari kepercayaan.
Kedua, ia harus pemimpin yang modern dan terbuka. Zaman sudah berubah. Politik tidak lagi hanya terjadi di pertemuan tertutup atau di meja pembicaraan. Pemimpin kita harus melek data, memahami teknologi, berani merombak cara kerja partai yang kaku, dan mendengar suara kader muda, perempuan, serta kader di akar rumput. Ia tidak boleh merasa paling tahu, melainkan terus belajar dan beradaptasi. Modernitas bukan sekadar memakai pakaian rapi — melainkan pola pikir yang maju dan tata kelola partai yang profesional.
Ketiga, ia harus pemimpin pemersatu, bukan pemecah belah. Luka perpecahan di tubuh partai akan sembuh hanya jika ada pemimpin yang mampu merangkul semua pihak. Menghormati kader senior sekaligus membuka ruang bagi kader muda; melibatkan seluruh komponen partai dalam kepemimpinan kolektif; dan yang terpenting — mengubah budaya saling curiga menjadi budaya saling percaya. Partai yang terbelah tidak akan pernah menang di pemilu. Partai yang solid adalah syarat mutlak kemenangan.
Keempat — dan ini adalah syarat yang tidak tertulis namun nyata adanya — ia harus mampu menjaga keselarasan arah kebijakan serta membawa mandat organisasi. Dalam budaya politik Golkar yang telah tumbuh dan hidup hingga kini, calon yang potensial memenangkan pertarungan internal adalah mereka yang sehaluan dan mampu menjembatani kepentingan organisasi di tingkat kabupaten dengan arahan dan visi Pimpinan di atasnya — baik DPD Propinsi Jawabarat maupun DPP. Bukan berarti meniadakan kemandirian berpikir, melainkan memahami bahwa kekuatan partai juga lahir dari kesatuan arah dan kemampuan berkomunikasi serta berkoodinasi secara vertikal. Pemimpin yang sejalan dengan arah kebijakan organisasi di atasnya akan lebih mudah memperoleh dukungan, akses, dan penguatan — yang pada akhirnya menjadi modal kemenangan di tingkat daerah. Ia mampu berdiri tegak di akar rumput sekaligus berjalan seirama dengan kebijakan partai secara keseluruhan.
Kelima, ia harus pemimpin berkinerja tinggi dan melayani. Kepemimpinan di Golkar bukan untuk dilayani, melainkan melayani kader dan rakyat. Pemimpin ini tahu berapa suara yang harus diperjuangkan, berapa kursi yang dipertaruhkan, dan menyusun langkah nyata untuk mencapainya. Ia mengelola partai dengan rapi, transparan, dan bekerja tanpa henti — bukan hanya saat musim pemilu tiba.
Keenam, ia harus pemimpin elektoral yang membawa semangat kemenangan. Ia memahami peta medan Sumedang, mengenal wilayah dari Kawasan BUTOM , Cincin Tampomas hingga Jatinangor, dari dataran tinggi hingga pesisir. Ia tidak takut bersaing dan mampu mencetak kader calon yang berkualitas — orang-orang yang dikenal, dicintai, dan dipercaya rakyat. Ia juga sadar bahwa tugas terberatnya adalah mengubah pengurus di kecamatan dan desa dari sekadar pemimpin administratif menjadi pemimpin elektoral yang turun ke lapangan, berbicara dengan rakyat, dan memenangkan suara satu per satu.
Musda Ini Adalah Tanggung Jawab Kita Bersama
Keputusan yang kita ambil di Musda XI akan terasa dampaknya di Pemilu 2029 dan Pilkada 2031. Jangan sampai kita memilih karena alasan yang keliru, lalu menyesal ketika hasil pemilu keluar. Mari kita tinggalkan kepentingan kelompok dan ego pribadi. Yang dipertaruhkan bukan nama seseorang, melainkan masa depan Golkar Sumedang dan kepercayaan rakyat yang harus kita jaga.
Kepada seluruh kader: Musda adalah milik kita semua. Mari datang dengan pikiran jernih, hati terbuka, dan semangat bahwa kita sedang memilih pemimpin terbaik — bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk partai, untuk Sumedang, dan untuk rakyat yang menaruh harapan pada kita.
Pilihlah figur yang tak hanya bisa memimpin, tapi juga bisa menyatukan. Yang tak hanya bisa berjanji, tapi juga bisa bekerja. Yang tak hanya kuat di daerah, tapi juga mampu menjaga keharmonisan dan membawa mandat organisasi secara utuh. Yang mampu membawa kita semua — kader lama dan baru, di kota maupun di desa — berjalan bersama menuju kemenangan. Golkar Sumedang bangkit. Bersatu, sejalan, bekerja, dan menang.(*)
*)Kader Partai Golkar Sumedang






