RADARSUMEDANG.id, PAMULIHAN – Erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyemburkan abu vulkanik hingga menjangkau sejumlah wilayah di Jawa Barat menjadi perhatian di tengah pelaksanaan Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW ke-1501 Tahun 1448 Hijriah di Pondok Pesantren Islam Internasional Terpadu Asy-Syifaa Wal Mahmudiyyah, Dusun Simpang, Desa Haurngombong, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Minggu (6/9).
Dalam kesempatan tersebut, pimpinan Ponpes Asy-Syifaa Wal Mahmudiyyah, Abuya KH Muhammad Muhyiddin bin Abdul Qodir Al Manafi, mengajak ribuan jamaah yang hadir untuk memanjatkan doa agar bangsa Indonesia senantiasa mendapat perlindungan Allah SWT dari berbagai musibah dan bencana.
Erupsi Gunung Anak Krakatau sendiri masih berlangsung. BMKG melaporkan sebaran abu vulkanik mencapai wilayah Banten, DKI Jakarta hingga Jawa Barat.
“Semoga bangsa kita dijauhkan dari musibah. Kita berdoa agar musibah yang sudah terjadi dicabut dan musibah yang akan terjadi tidak jadi terjadi,” ujar Abuya di hadapan jamaah.
Ribuan jamaah dari berbagai daerah di Jawa Barat hingga luar Jawa Barat memadati kompleks pesantren tersebut. Maulid Akbar juga dirangkaikan dengan doa bersama dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia Tahun 2026.
Menurut Abuya, kegiatan tersebut bukan sekadar peringatan Maulid Nabi, melainkan momentum bagi umat untuk semakin mengenal sosok Rasulullah SAW sekaligus melakukan introspeksi dan memperbaiki diri.
“Tujuan kita berkumpul di majelis ini adalah mengenal Rasulullah, mengajak kita untuk bertaubat bagi yang masih banyak salah, memperbaiki diri dan menambal segala kekurangan,” katanya.
Ia menuturkan, kecintaan kepada Rasulullah SAW harus menjadi jalan bagi umat untuk menumbuhkan kecintaan dan kerinduan kepada Allah SWT. Selain itu, majelis juga menjadi sarana mempererat silaturahmi sesama umat Nabi Muhammad SAW.
Abuya mengajak jamaah meninggalkan berbagai sifat buruk yang masih melekat di dalam hati, baik terhadap Rasulullah maupun terhadap sesama makhluk Allah SWT.
“Di majelis ini kita melepas segala keterikatan kepada dunia yang ada pada diri kita. Kita duduk dengan khusyuk, seolah-olah berada di hadapan Nabi Muhammad SAW. Kita bersama-sama menundukkan wajah dan merendahkan diri di hadapan Allah. Itulah salah satu tujuan acara ini,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mensyukuri seluruh nikmat Allah SWT, termasuk anugerah diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa ilmu dan petunjuk bagi umat manusia.
Melalui ajaran Rasulullah SAW, kata Abuya, umat dapat mengenal Allah, belajar mengabdi kepada-Nya, membedakan kebenaran dan kebatilan, memahami keagungan Allah, serta mengetahui jalan untuk mendekatkan diri dan memohon pertolongan-Nya.
“Marilah kita bersama-sama mensyukuri semuanya. Termasuk kita mengenang dan mensyukuri anugerah kemerdekaan yang sangat mahal ini,” ujarnya.
Abuya menegaskan, kemerdekaan harus dijaga dengan memperkuat persaudaraan. Terutama persaudaraan sesama umat Nabi Muhammad SAW.
Ia meminta seluruh jamaah menghindari perkataan maupun tulisan yang dapat memicu perpecahan di tengah masyarakat.
“Segala hal yang dapat meretakkan persatuan harus kita tepis. Tidak pantas seorang hamba Allah dan umat Nabi Muhammad mengeluarkan kata-kata maupun tulisan yang dapat memecah belah umat. Itu sudah keluar dari ajaran Allah,” tegasnya.
Menurutnya, berkumpulnya ribuan jamaah dalam satu majelis harus menjadi momentum memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus hubungan dengan sesama manusia.
Ia berharap jamaah yang pulang dari majelis membawa perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hati, perilaku, tindakan maupun ucapan.
“Kalau setelah pulang dari majelis hati kita menjadi lebih baik, perilaku, tindakan dan ucapan juga lebih baik, maka akan memberikan dampak terhadap kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan dalam kehidupan,” ungkapnya.
Abuya juga mengajak umat menjaga sikap terhadap seluruh makhluk Allah SWT, baik sesama muslim maupun nonmuslim. Menurutnya, kehidupan akan lebih bahagia ketika manusia saling mencintai dan menghormati.
“Karena semuanya sama-sama ciptaan Allah. Mari saling memuji, bukan saling mencaci,” ajaknya.
Di akhir tausiyah, Abuya kembali mengajak seluruh jamaah mendoakan Indonesia agar senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, terlebih di tengah berbagai persoalan dan potensi bencana yang terjadi.
“Semoga segala permasalahan bangsa ini dicabut oleh Allah SWT dan Indonesia menjadi bangsa yang bersatu, maju, subur, makmur, penuh berkah dan sejahtera,” pungkasnya. (tha)





