Angklung Sumedang Mendunia, Ensemble Insan Sejahtera Tampil di Pasar Senggol Turkiye

oleh
Grup Ensemble Musik Insan Sejahtera berfoto bersama KJRI Instanbul usai tampil dalam Festival Pasar Senggol Turkiye 2026, Jumat (11/9/2026) dengan menampilkan berbagai lagu dan tarian khas nusantara dengan iringan musik angklung (www.aa.com.tr)

RADARSUMEDANG.id, ISTANBUL – Dari panggung seni di Sumedang hingga Istanbul, Turkiye. Ensemble Musik Insan Sejahtera mencatat pengalaman baru dengan membawa alunan angklung ke pentas internasional dalam Festival Pasar Senggol Turkiye 2026, Jumat (11/9/2026).

Grup musik binaan Yayasan Mitra Insan Sejahtera Sumedang tersebut mendapat undangan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Istanbul untuk tampil dalam festival yang tahun ini mengangkat tema “West Java Resonance in Türkiye: Discovering Indonesia’s Artistic and Culinary Soul”.

Penampilan tersebut menjadi momentum istimewa bagi Ensemble Musik Insan Sejahtera. Pasalnya, untuk kali pertama grup angklung asal Sumedang itu tampil di panggung internasional setelah sebelumnya aktif mengikuti berbagai pertunjukan dan ajang seni hingga tingkat nasional.

Bagi Pembina Yayasan Mitra Insan Sejahtera Sumedang Hj Yani Citraeni, SE, MPd, kesempatan tersebut bukan sekadar undangan pentas. Ada kebanggaan sekaligus misi kebudayaan yang dibawa para personel ketika tampil di hadapan masyarakat Turkiye dan komunitas internasional.

“Ini menjadi kebanggaan bagi kami karena Ensemble Musik Insan Sejahtera mendapat kesempatan tampil di Turkiye. Apalagi ini merupakan kali pertama kami membawa grup angklung dari Sumedang ke panggung internasional,” ujar Yani.

Perempuan yang akrab disapa Umi Yani itu menyebut perjalanan Ensemble Musik Insan Sejahtera hingga dipercaya tampil di luar negeri tidak terlepas dari proses panjang. Berbagai pengalaman pentas di sejumlah daerah hingga tingkat nasional menjadi bekal bagi para personel untuk berani tampil di panggung yang lebih luas.

Foto: www.aa.com.tr

Menurut Umi Yani, pengalaman internasional tersebut juga menjadi pembelajaran penting bagi para anggota, khususnya generasi muda. Mereka tidak hanya belajar memainkan alat musik tradisional, tetapi juga mendapatkan pengalaman membawa identitas daerah dan bangsa ke tengah pergaulan global.

Umi Yani yang turut serta rombongan ke Turkiye menilai angklung mempunyai kekuatan tersendiri sebagai media diplomasi budaya. Musik yang dimainkan secara bersama-sama itu dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan Indonesia tanpa harus dibatasi perbedaan bahasa.

Karena itu, tampilnya Ensemble Musik Insan Sejahtera di Turkiye diharapkan tidak berhenti pada sebuah pertunjukan.

“Kami tidak hanya membawa nama Ensemble Musik Insan Sejahtera, tetapi juga membawa nama Sumedang dan Jawa Barat. Ini kesempatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia melalui musik angklung,” tuturnya.

Ia berharap penampilan tersebut ikut membuka peluang semakin dikenalnya Jawa Barat, termasuk Sumedang, oleh masyarakat Turkiye.

Selain kekayaan seni dan budaya, Sumedang memiliki potensi pariwisata, kuliner, serta ekonomi kreatif yang bisa diperkenalkan melalui momentum internasional tersebut.

“Kami berharap penampilan ini bisa menjadi daya pikat bagi masyarakat Turkiye untuk mengenal Indonesia, khususnya Jawa Barat. Mudah-mudahan mereka tertarik datang langsung ke Jawa Barat dan tentunya ke Sumedang,” kata Yani.

Harapan tersebut sejalan dengan semangat Festival Pasar Senggol yang tidak hanya menjadi panggung pertunjukan seni, tetapi juga ruang memperkenalkan kuliner Nusantara, produk UMKM, kerajinan, serta berbagai potensi ekonomi kreatif Indonesia.

Pasar Senggol Jadi Jembatan Budaya

Konjen RI Istanbul Darianto Harsono seperti dilansir dari laman www.aa.com.tr mengatakan, Pasar Senggol telah konsisten menjadi ruang yang memperkenalkan keragaman kuliner, produk, dan budaya Indonesia kepada masyarakat Turkiye.

Festival tersebut memasuki penyelenggaraan kelima sejak pertama kali digelar oleh diaspora Indonesia pada 2022. Tahun ini kegiatan berlangsung di Eyupsultan Belediyesi Nikah Salonu ve Kultur Merkezi, Istanbul.

“Melalui Pasar Senggol, diaspora Indonesia turut membangun hubungan antarmanusia, seraya mendorong diplomasi ekonomi dan diplomasi budaya Indonesia di Turkiye,” ujar Darianto.

Menurutnya, keberadaan diaspora Indonesia turut memiliki peran penting dalam membangun citra positif Indonesia di Turkiye. Bersama perwakilan Republik Indonesia, diaspora juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan bilateral kedua negara.

Dalam penyelenggaraannya, Pasar Senggol mengadaptasi konsep pasar rakyat Indonesia. Festival mempertemukan kuliner, produk kreatif dan UMKM, pertunjukan seni-budaya, musik, hiburan, serta interaksi masyarakat Indonesia dengan publik internasional.

Khusus tahun ini, nuansa Jawa Barat mendapat porsi lebih besar sesuai tema yang diusung. Sejumlah pertunjukan menampilkan kekayaan seni Jawa Barat, termasuk angklung dan tari Jaipong, disamping kesenian dari berbagai daerah Nusantara.

Kehadiran Ensemble Musik Insan Sejahtera pun menjadi bagian dari rangkaian tersebut. Alunan angklung dari Sumedang tampil sebagai representasi kekayaan seni tradisional Jawa Barat di tengah festival yang mempertemukan diaspora Indonesia, pelajar, masyarakat Turkiye dan warga negara asing pencinta Indonesia.

Pasar Senggol juga memiliki dimensi ekonomi yang cukup kuat. Selain pertunjukan seni, festival menghadirkan stan makanan khas Nusantara, produk kreatif, kerajinan, serta berbagai produk UMKM Indonesia.

Jumlah pengunjung festival tercatat terus berkembang. Pada 2022 dan 2023, kegiatan tersebut dikunjungi lebih dari 2.000 orang. Angka itu meningkat menjadi lebih dari 3.500 pengunjung pada 2024 dan lebih dari 3.000 pengunjung pada 2025.

Pada penyelenggaraan 2025, pengunjung tercatat berasal dari 37 negara. Komposisinya terdiri dari diaspora Indonesia, warga Turkiye, serta warga negara asing lainnya.

Tahun ini penyelenggara menargetkan lebih dari 4.000 pengunjung dari sekitar 40 negara, dengan lebih dari 50 stan dan peserta budaya.

Bagi Umi Yani, keterlibatan Ensemble Musik Insan Sejahtera dalam festival tersebut memberikan pengalaman berharga bagi para personel sekaligus menjadi pembelajaran bahwa seni tradisional daerah mampu menembus panggung dunia.

Ia berharap pengalaman tersebut menjadi pemantik bagi generasi muda Sumedang untuk tidak minder dengan kesenian tradisional.

“Semoga ini menjadi penyemangat bagi anak-anak dan generasi muda untuk terus berlatih, berkarya dan berani tampil. Seni tradisional kita memiliki peluang untuk dikenal sampai ke mancanegara,” pungkasnya.

Dari panggung Pasar Senggol Turkiye, Ensemble Musik Insan Sejahtera membawa lebih dari sekadar bunyi angklung. Mereka membawa nama Sumedang, Jawa Barat, dan Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa kreativitas dan kesenian yang tumbuh dari lingkungan pendidikan dan komunitas di daerah mampu menjadi bagian dari diplomasi budaya di tingkat internasional. (rik)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.