Air Sungai Cipeusing Tercemar Limbah Industri, Warga: Sudah Bertahun-tahun Tidak Ada Perubahan!

oleh
Rahmat Sutrisno (76), menunjukan langsung Sungai Cipeusing yang tercemar yang dihasilkan dari aktivitas industri di kawasan Kampung Pasirastana, Desa Cangkorah, Kecamatam Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (20/9/2026). (Alfandy Septiansyah Putra/radarbandung)

RADARSUMEDANG.id, BANDUNG BARAT — Sudah lebih dari empat dekade Sungai Cipeusing yang mengalir di Desa Cangkorah, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, tercemar oleh limbah yang dihasilkan dari aktivitas industri yang menjamur dikawasan tersebut. Sungai yang dulu indah kini tampak berwarna hitam pekat dan mengeluarkan bau tak sedap akibat tercemar.

Aliran sungai yang melintasi di tengah pemukiman warga tersebut, juga mengalir terhubung ke Sungai Cihaur lalu berakhir bermuara hingga ke Waduk Saguling. Hasil pantauan tim Radar Bandung, selain warna yang terlihat gelap dan bau yang menusuk hidung, tampak busa putih yang mengambang di area permukaannya.

Warga sekitar kawasan sungai tampak sangat geram, pasalnya berbagai upaya warga sudah dilakukan, seperti melapor ke berbagai pihak yang terkait. Namun, hasil yang didapatkan nihil dan tidak ada penyelesaian secara langsung hingga saat ini.

Salah satu warga Kampung Pasirastana yang juga merupakan tokoh aktivis lingkungan, Rahmat Sutrisno (76), mengatakan dirinya telah manyaksikan langsung pencemaran yang telah terjadi dimulai dari sekitar tahun 1980-an, dimana tahun tersebut kawasan Batujajar mulai berkembang menjadi kawasan industri.

”Sebenarnya, sungai ini sudah tercemar dari dulu, mulai tahun 80-an. Tahun itu mulai banyak pabrik yang berdiri di sekitar sini. Sebelum adanya pabrik-pabrik itu Sungai Cipeusing menjadi salah satu tempat untuk warga beraktivitas, salah satunya saya sendiri,” kata Sutrisno yang ditemui, Minggu (20/9/2026).

Rahmat mengatakan kondisi saat ini berbanding jauh pada sebelum berkembangnya aktivitas industri di kawasan tersebut. Pada tahun 1970-an, dirinya mengaku Sungai Cipeusing tampak indah dan masih menjadi tempat beberapa jenis ikan berenang kesana kemari.

“Jauh sekali, perbedaannya bagaikan langit dan bumi. Dulu tahun 70-an sungai ini dijadikan tempat mandi oleh beberapa warga, lalu juga disini masih banyak ikan. Tapi, saat ini rasanya sungainya sudah ngga layak lagi, bahkan satupun ikan pun sudah ngga ada karena pasti ya mati,” katanya.

Bahkan saking geramnya, para warga dan penggiat lingkungan di Desa Cangkorah bekerja sama untuk mendirikan dua buah spanduk yang mengimbau bahwa sungai telah tercemar limbah B3 dan peringatan untuk tidak melakukan aktivitas di area sungai. Kadar B3 sendiri merupakan zat berbahaya dan beracun yang sangat berbahaya jika dilepaskan ke lingkungan atau terpapar manusia tanpa pengelolaan khusus.

“Di sini kan terlihat ada spanduk peringatan, itu dibangun oleh warga disini karena untuk imbauan supaya warga tidak beraktivitas di Sungai Cipeusing ini. Karena air sungainya kan udah tercemar parah bahkan sampai B3, itukan sangat berbahaya sekali untuk manusia,” masih kata Sutrisno.

Dampak dari limbah yang mencemari Sungai Cipeusing juga dirasakan langsung oleh salah satu petani yang memiliki lahan sawah dan berdampingan langsung dengan sungai. Mamat (73), mengaku beberapa petani harus merelakan hasil garapan sawahnya akibat dari gagal panen.

”Ya kalau sungainya tercemar kayak gini sudah pasti kan airnya rembes sampai ke sawah. Hasilnya banyak petani yang padinya mati. Jadi kasihan saya juga pasti ikut merasakan sebagai sesama petanilah,” ujarnya.

Ketua dari Patriot Warga Pecinta Lingkungan (PWPL), Ridwan, membenarkan situasi yang telah berlangsung sejak lama tersebut. Ridwan mengatakan dirinya dengan anggotanya sudah melakukan berbagai upaya hingga mediasi untuk menemukan garis lurus dari permasalahan tersebut.

“Saya bersama beberapa anggota, sudah melakukan macam-macam upaya, untuk mencari jalan keluarnya, bahkan beberapa pihak instansi juga sudah pernah kami datangkan, seperti dari DLH pun sering datang memantau, tapi hasilnya belum ada perkembangan sampai saat ini,” ungkapnya.

Ridwan mengatakan dirinya mewakili masyarakat khususnya Desa Cangkorah, mengaharapkan bantuan dari pihak pemerintah berupa pengawasan terhadap aktivitas industri yang berada disekitar aliran sungai dan juga melakukan evaluasi dampak dari yang dihasilkan tersebut.

“Kami masyarakat hanya ingin hak kami sebagai manusia yang membutuhkan lingkungan sehat terpenuhi. Sudah berapa tahun kami dirugikan akibat limbah yang mengalir di Sungai Cipeusing. Harapan saya pemerintah khususnya pihak instansi yang bersangkutan terhadap lingkungan bisa lebih tegas dan memperketas pengawasan, agar perusahaan yang memang mencemari bisa bertanggung jawab atas dampak dari hasil aktivitasnya,” tandasnya. (ASP/job).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.