Dari Kelas Menulis “Menyidik Diksi” PBI Unsap Sumedang: “Menulis Puisi bisa Seasyik Ini”

oleh
Mahasiswa pascasarjana PBI Unsap Sumedang Taufik Saptoto Rohadi (berdiri) atau yang dikenal sebagai novelis fiksi sejarah Tasaro GK sedang berdiskusi di kelas puisi bersama mahasiswa pascarasarjana lainnya (For Radar Sumedang)

RADARSUMEDANG.id, KOTA — “Ah, moal bisa diteruskeun,” kata Wawat Ernawati sembari menyeka air matanya. Pengawas sekolah dasar (SD) Kecamatan Cibugel, Kabupaten Sumedang itu sedang membeberkan ide naskah puisinya.

“Seorang ibu tidak akan mengharapkan balasan dari anaknya,” ujar Wawat sambil menahan tangis.

Dalam sesi sebelumnya, Wawat memilih topik “cinta tanpa syarat” kemudian ia mengurai frasa itu dengan rumus jurnalistik 5W1H (who, what, when, where, why dan how).

Ketika menyampaikan konsep “cinta tanpa syarat” kepada putrinya yang sedang menjalani pendidikan pesantren di luar kota, emosinya tumpah dalam pilihan kata yang sangat menyentuh.

Wawat adalah salah seorang mahasiswa pascasarjana Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas April (UNSAP) Sumedang, yang mengikuti kelas menulis puisi bertajuk “Menyidik Diksi”.

Kelas menulis ini digelar terbatas, sebagai kegiatan kreatif mahasiswa pascasarjana PBI angkatan 2025 mengisi waktu luang di sela jadwal kuliah.

“Puisi itu jalan sunyi. Namun, perkembangan teknologi mengubah kemungkinan syair puisi menjadi bunyi nyaring dalam keramaian,” ujar koordinator acara “Menyidik Diksi”, Rizal Faizal Ramdhani.

Menurut guru SMPN 1 Jatinangor itu,  bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa menjadi momentum sempurna untuk merayakan sastra dalam konteks kekinian. Oleh karena itu, terutama bagi mahasiswa PBI, melatih kenikmatan menulis puisi pada era kecerdasan buatan menjadi keterampilan yang kontekstual.

Kelas “Menyidik Diksi” di program studi PBI ini diampu oleh sesama mahasiswa PBI yang juga penulis, Tasaro GK. Tasaro yang akrab dipanggil Abah ini telah menulis lebih dari 100 buku sejak 2004. Buku yang terbit di berbagai penerbit nasional itu berbentuk genre novel, jurnalistik, artikel opini, sampai buku bacaan anak.

“Justru karena saat ini orang sudah sangat akrab dengan chatbot AI, keterampilan menulis semakin spesial. Sebab, kuncinya adalah orisinalitas. Kami menyebutnya “sidik diksi,” ujar Kepala Sekolah SD Alam Bukit Akasia, Tanjungsari ini.

Menurut penerima Adikarya IKAPI itu, setiap orang memiliki orisinalitas berbahasa yang ia sebut “sidik diksi”. Sidile diksi sangat ditentukan oleh pengalaman, literasi, dan pemaknaan setiap orang terhadap setiap fenomena.

“AI bisa menulis apa pun untuk siapa pun. Namun, AI tidak bisa mewakili kata hati, empati, kondisi kebatinan seseorang. Sebab, semua itu ada dalam garis sidilk diksi,” ujar Abah Tasaro. Sebagaimana sidik jari, kata Abah, sidik diksi juga sangat khas pada setiap orang.

Kelas menulis “Menyidik Diksi” adalah upaya untuk mengenali diksi khas setiap orang. Diksi, atau pilihan kata, mesti mewakili pengalaman seseorang seumur hidup.

Pilihan kata mewakili cara seseorang memaknai fenomena dan peristiwa. Abah mencontohkan bagaimana Taufiq Ismail memaknai “hidup” sebagai “ibadah”. Ibadah kemudian dilambangkan dengan sajadah panjang. Ibadah seumur hidup. Terciptalah syair: Sajadah Panjang yang dilagukan Bimbo dan dinyanyikan kembali oleh Ariel.

Ada juga puisi “Kepada Noor” yang memaknai “rindu” sebagai “perjalanan”. Puisi yang ditulis Moch. Syarif Hidayat itu populer setelah dimusikalisasi oleh Padji Sakti.

Sidik Diksi inilah yang dilatihkan kepada mahasiswa pascasarjana PBI dalam kelas “Menyidik Diksi”.

Tidak berhenti pada penulisan naskah puisi, peserta juga ditantang untuk melakukan musikalisasi puisi.

Sebuah puisi yang dimusikalisasi menjadi lagu punya peluang untuk dinikmati dan dijiwai oleh audiens yang lebih luas.

Mereka yang mampu memainkan alat musik bisa menciptakan aransemen sendiri. Namun, bagi penulis puisi yang tidak memainkan instrumen, bisa menggunakan kecerdasan buatan khusus untuk membantu mengaransemen musik, sehingga puisi bisa menjadi lagu dengan berbagai jenis aliran musik.

Nia Kurniawati, peserta kelas menulis yang juga guru SMPN 4 Sumedang, sangat antusias memusikalisasi puisinya yang bertema “rasa aman” menjadi lagu yang syahdu. Bagi Nia, menikmati puisi dalam bentuk lagu merupakan pengalaman yang menakjubkan.

“Saya sangat menyukai lagu-lagu Pandji Sakti. Saya baru tahu kalau ‘Kepada Noor’ itu awalnya puisi yang dimusikalisasi,” aku Nia.

Bagi Nia, kelas menulis puisi “Menyidik Diksi” benar-benar memberi pengalaman baru dalam merayakan karya sastra. Dalam pelatihan ini, Nia menulis puisi berjudul “Kendali Hati” yang kemudian ia jadikan lagu dengan bantuan kecerdasan buatan.

Peserta lainnya, Jajang Kardia, mengaku terstimulasi untuk mengungkapkan perasaan melalui bait puisi selama mengikuti tahapan pelatihan.

“Saya baru kali ini terkondisikan mencurahkan perasaan karena menulis puisi,” kata guru SD Sukaraja, Kecamatan Cibugel ini.

Memilih topik “dukungan”, Jajang menumpahkan perasaannya tentang perjuangan sejak kecil untuk bisa bersekolah tinggi, sementara dukungan hanya datang dari kedua orang tua.

Ketika Jajang sukses menjadi guru dan berkuliah sampai jenjang pascasarjana, kedua orang tuanya telah meninggal. Hal itu yang memancing keharuan Jajang dan terungkap dalam larik puisi.

Kelas menulis “Menyidik Diksi” ini rupanya merupakan kegiatan spontan mahasiswa pascasarjana PBI angkatan 2025.

Angkatan yang dikenal dengan nama angkatan LULU ini mengumpulkan guru-guru dengan latar yang berbeda-beda, sehingga punya banyak potensi untuk saling berbagi keterampilan dan pengetahuan.

“LULU itu singkatan: Literat, Unggul, Lugas, dan Unik,” kata Nurul Alif Hanifah, penggerak literasi angkatan LULU yang juga guru SDN Panorama, Cimalaka.

Menurut Nurul, kegiatan positif antarmahasiswa akan terus diselenggarakan untuk memacu pengetahuan, keterampilan mahasiswa.

“Tentu saja karena kita mahasiswa PBI, segala terkait bahasa jadi prioritas,” tutur Nurul yang juga akrab dipanggil Lulu ini. (Rik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.