RADARSUMEDANG.id, KOTA – Inovasi teknologi tak harus lahir dari laboratorium canggih. Di tangan para siswa SMPIT Insan Sejahtera Sumedang, robot sederhana justru dikembangkan untuk menjawab persoalan lingkungan, mulai dari ancaman kebakaran hutan, efisiensi pertanian dan peternakan, hingga bahaya banjir serta pencemaran perairan.
Berbagai karya tersebut dipamerkan dalam STEAM FAIR 2026 bertema Climate Action, STEAM Innovation yang digelar di Kampus SMPIT Insan Sejahtera Sumedang, Sabtu (24/10). Kegiatan ini menjadi ajang bagi siswa untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menjawab tantangan di kehidupan nyata.
Kepala SMPIT Insan Sejahtera Sumedang Khodijah Mustaqimah, SE, MSi, bersama Pembina Yayasan Mitra Insan Sejahtera Hj Yani Citraeni, SE, MPd, menjadi bagian penting dalam kegiatan yang mengintegrasikan sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika tersebut.
STEAM FAIR 2026 juga melibatkan sekitar 470 hingga 500 siswa SD/MI dari berbagai sekolah di Kabupaten Sumedang. Para siswa diajak mengeksplorasi sains dan teknologi melalui eksperimen, permainan logika, serta beragam karya inovatif yang dirancang untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Salah satu karya yang menarik perhatian ialah robot penjaga hutan buatan siswa kelas 9A Ibnu Firnas. Dalam proyek bertema perhutanan tersebut, siswa mengembangkan lima inovasi yang dirancang untuk membantu memantau kondisi hutan dan mendeteksi potensi ancaman lingkungan.
Robot itu dilengkapi sistem peringatan otomatis untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan. Perangkat pemantauan suhu dan kelembapan juga dirancang untuk mengirimkan laporan melalui aplikasi Telegram, sehingga informasi dapat diterima tanpa harus selalu berada di lokasi.
Selain itu, siswa mengembangkan sistem peringatan terhadap peningkatan gas berbahaya, sensor getaran dan suhu untuk memantau indikasi aktivitas gunung, serta kamera pemantau yang membantu mengidentifikasi kawasan hutan yang mulai mengalami penggundulan.
Rangkaian inovasi tersebut memperlihatkan bagaimana pembelajaran teknologi dapat diarahkan untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pelestarian alam. Robot tidak hanya menjadi perangkat mekanis yang menarik untuk dipamerkan, tetapi juga sarana belajar mengenai mitigasi bencana dan perlindungan lingkungan.
Karya berikutnya datang dari siswa kelas 9B Ibnu Haytham melalui proyek Smart Farm. Berbeda dengan robot penjaga hutan, inovasi ini berfokus pada pemanfaatan teknologi untuk mendukung pengelolaan perkebunan dan peternakan agar lebih praktis dan efisien.
Sistem yang dikembangkan mencakup perangkat pendeteksi hama di area tanaman maupun peternakan, alat pemantau pH tanah dan air, serta robot pemberi pakan otomatis di depan kandang. Mereka juga memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi dan air mancur untuk membantu menjaga sirkulasi air kolam.
Tak berhenti di situ, siswa turut mengembangkan kamera yang dapat ditempatkan secara fleksibel dan digunakan untuk memantau kondisi area melalui Telegram. Dengan pendekatan tersebut, siswa diperkenalkan pada konsep pertanian cerdas yang menggabungkan sensor, otomasi, energi alternatif, dan pemantauan jarak jauh.
Inovasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa persoalan ketahanan pangan dan efisiensi pengelolaan sumber daya dapat menjadi bahan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, siswa kelas 9C Ibnu Rusyd mengangkat persoalan perairan melalui proyek robot pemantau banjir dan pencemaran. Mereka merancang lima sistem yang berfokus pada keselamatan serta kebersihan lingkungan perairan.
Salah satu perangkatnya berupa alarm buzzer dan lampu LED yang memberikan peringatan ketika ketinggian air meningkat secara tidak normal. Sistem pemantauan juga dirancang mengirimkan laporan ketinggian air melalui Telegram, sehingga perubahan kondisi dapat diketahui dengan lebih cepat.
Siswa turut mengembangkan detektor gelombang tinggi untuk membantu mengenali kondisi perairan yang berpotensi membahayakan. Ada pula sistem peringatan untuk mendeteksi indikasi tumpahan minyak serta kamera otomatis yang dapat mengambil dan mengirimkan foto melalui Telegram ketika mendeteksi dugaan aktivitas pembuangan sampah atau limbah.
Ketiga proyek tersebut memperlihatkan benang merah yang sama: teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengenali masalah, mengembangkan solusi, dan membangun kepedulian terhadap lingkungan sejak usia sekolah.
Melalui STEAM FAIR 2026, siswa tidak hanya mempelajari konsep sains dan teknologi secara teoretis. Mereka juga berlatih merancang alat, menggabungkan berbagai komponen, menguji gagasan, dan memikirkan manfaat karya bagi masyarakat.
Keterlibatan siswa SD/MI sebagai peserta semakin memperluas manfaat kegiatan. Selain menjadi ruang unjuk karya siswa SMPIT Insan Sejahtera, kegiatan ini juga membuka kesempatan bagi peserta dari jenjang pendidikan dasar untuk mengenal sains dan teknologi melalui pengalaman yang lebih interaktif.
Tema Climate Action, STEAM Innovation pun menjadi pengingat bahwa aksi menghadapi perubahan iklim dapat dimulai melalui langkah-langkah edukatif di lingkungan sekolah. Kepedulian terhadap hutan, pengelolaan pertanian, keselamatan di wilayah perairan, dan pencegahan pencemaran menjadi persoalan nyata yang dapat dipelajari melalui pendekatan STEAM.
Kepala SMPIT Insan Sejahtera Sumedang Khodijah Mustaqimah, SE, MSi, dan Pembina Yayasan Mitra Insan Sejahtera Hj Yani Citraeni, SE, MPd, mengungkapkan melalui STEAM Fair bisa menjadi momentum memperkuat perspektif mengenai tujuan pendidikan, pembentukan karakter, dan pengembangan kreativitas siswa melalui kegiatan tersebut.
“STEAM FAIR 2026 menunjukkan bahwa sekolah memiliki ruang strategis untuk menumbuhkan generasi yang tidak hanya memahami perkembangan teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya secara kreatif dan bertanggung jawab,” tutur Khodijah.
Sementara itu, Pembina Yayasan Mitra Insan Sejahtera Hj Yani Citraeni, SE, MPd, mengapresiasi penyelenggaraan STEAM FAIR 2026 yang dinilainya menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas, keberanian bereksperimen, dan kemampuan memecahkan masalah.
Menurutnya, kegiatan tersebut membuktikan bahwa pembelajaran di sekolah dapat dikemas secara menarik sekaligus mendorong siswa menghasilkan karya yang memiliki manfaat nyata bagi lingkungan.
“STEAM FAIR ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk menunjukkan kreativitas dan inovasinya. Kami berharap melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memahami teori yang dipelajari di kelas, tetapi juga mampu menerapkannya untuk menghasilkan solusi atas berbagai persoalan di sekitar mereka, terutama yang berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.
Dari robot penjaga hutan hingga sistem pemantau banjir, para siswa menghadirkan gagasan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang rumit. Dengan pembelajaran yang tepat, persoalan di sekitar mereka dapat menjadi titik awal untuk melahirkan solusi yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.(rik)





