Ini Tanggapan Dadang Supriatna Usai Mengalahkan Istrinya Sendiri dalam Kontestasi Pilkades Serentak!

oleh
PILKADES DIGITAL : Suasana Pilkades digital serentak di Sumedang, baru-baru ini.

RADARSUMEDANG.id, CIMANGGUNG – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak digital di Kabupaten Sumedang menghadirkan cerita tak biasa. Di Desa Sukadana, Kecamatan Cimanggung, seorang kepala desa petahana harus bersaing dengan istrinya sendiri dalam perebutan kursi kepala desa.

Kontestasi politik satu rumah itu mempertemukan Dadang Supriatna dengan istrinya, Ripah Karmini. Persaingan keduanya berlangsung layaknya pertarungan antarkandidat, meski setelah kampanye mereka tetap menjalani kehidupan rumah tangga seperti biasa.

Hasil pemungutan suara menempatkan Dadang yang nomor urut 2, sebagai pemenang dengan perolehan 2.306 suara. Sementara Ripah, nomor urut 1, memperoleh 491 suara. Dengan hasil tersebut, Dadang kembali mendapat kepercayaan masyarakat untuk memimpin Desa Sukadana.

Dadang mengungkapkan, keputusan istrinya maju sebagai calon kepala desa berawal dari minimnya pendaftar menjelang penutupan tahapan pencalonan. Saat itu, belum ada warga lain yang bersedia menjadi penantang petahana.

Daripada pemilihan hanya mempertemukan dirinya dengan kotak kosong, Ripah akhirnya berinisiatif maju sebagai calon. Langkah tersebut dinilai penting agar masyarakat memiliki pilihan dalam menentukan pemimpin desa.

“Kalau kaget sih enggak, karena mungkin pertimbangannya daripada lawan sama kotak kosong, lebih baik ada lawan,” ujar Dadang, Selasa (3/11).

Meski menghadapi persaingan dengan orang terdekat, Dadang mengaku sempat diliputi kekhawatiran. Sebab, tidak menutup kemungkinan sebagian dukungan masyarakat justru beralih kepada istrinya.

“Tentu ada waswas, karena kami ingin tahu hati orang bisa juga ke istri. Beban beratnya, pendukungnya bisa juga ke saya. Tetap kekhawatiran itu ada,” ungkapnya.

Uniknya, persaingan tersebut tidak sampai memengaruhi keharmonisan rumah tangga mereka. Keduanya bahkan membagi wilayah kampanye dan tim pendukung masing-masing.

Dadang turun bersama timnya, sedangkan Ripah lebih banyak bergerak bersama kelompok ibu-ibu. Tak jarang, Ripah harus blusukan hingga mendaki gunung untuk menemui warga.

Rumah mereka pun sempat dibagi menjadi dua bagian untuk kepentingan posko pemenangan. Ruangan depan digunakan Dadang, sementara bagian belakang menjadi tempat aktivitas tim Ripah.

“Ruangan dibagi dua. Ruangan untuk saya di depan, istri di belakang. Kalau debat di rumah enggak, bersaing hanya turun kampanye ke lapangan saja. Di rumah tetap kami bersama,” tuturnya.

Selama masa kampanye, Dadang juga kerap mendapat pertanyaan warga mengenai kemungkinan istrinya yang justru memenangkan pemilihan. Pertanyaan tersebut biasanya hanya dibalas dengan senyuman.

Keduanya bahkan datang bersama ke tempat pemungutan suara (TPS) pada hari pencoblosan. Kehadiran pasangan suami-istri tersebut sempat mengundang candaan warga yang menyebut keduanya seperti pengantin baru.

Di balik persaingan unik itu, Dadang mengaku ingin memberikan contoh bahwa kontestasi politik tingkat desa tidak harus diwarnai politik uang. Ia sengaja menghindari praktik tersebut untuk menunjukkan bahwa dukungan masyarakat bisa diperoleh melalui pendekatan dan komunikasi langsung.

“Kami punya inisiatif bagaimana mendidik warga kalau caranya tidak pakai uang. Buktinya, tanpa uang pun bisa. Ini bisa jadi contoh bagi desa lain, ternyata perolehan suara bukan dari uang, tetapi tergantung bagaimana kita mengajak,” tegasnya.

Dadang juga mengapresiasi penerapan Pilkades digital di Kabupaten Sumedang. Menurut dia, sistem tersebut lebih efisien dibandingkan pemungutan suara konvensional, terutama dalam memangkas biaya operasional, tenaga, serta beban penyelenggaraan.

Setelah kembali terpilih, Dadang berkomitmen melanjutkan sejumlah program yang belum terealisasi. Fokusnya meliputi pembangunan infrastruktur, penguatan ekonomi masyarakat, sektor sosial, pendidikan, dan keagamaan.

Ia juga menargetkan penurunan angka pengangguran melalui penguatan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan lokal. Dengan begitu, peluang kerja bagi masyarakat Desa Sukadana diharapkan semakin terbuka.

“Semoga kepemimpinan saya diridai Allah SWT, bisa menjaga amanah masyarakat, dan terus berjuang untuk memajukan warga,” imbuhnya. (gun)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.