Petani Milenial Asal Tomo Sukses Budidaya Sayuran Hidroponik, Menantikan Dukungan Pemerintah

oleh
PETANI MILENIAL: Wahyu, salah seorang petani milenial sayuran hidroponik di Cijelag di sela-sela merawat sayurannya, Jumat (01/08/25) pukul 07.00 WIB. (Bella/ Magang/ Radar Sumedang)

RADARSUMEDANG.ID, TOMO – Menjadi petani milenial di zaman sekarang sering disebut sebagai bagian dari munculnya petani muda yang siap melanjutkan dunia pertanian. Namun kenyataannya, tidak semua petani muda mendapatkan perhatian dan dukungan dari pemerintah.

Salah satunya adalah seorang petani milenial hidroponik asal Sumedang, Wahyu, yang telah membuktikan bahwa keterbatasan lahan dan modal bukan penghalang untuk membangun kebun produktif.

Berawal dari ketidakmampuan mengakses lahan pertanian yang konvensional, ia memilih hidroponik sebagai alternatif. Pekarangan rumah dijadikan tempat bercocok tanam dengan sistem yang efisien dan hemat ruang.

“Saya tidak punya lahan produktif untuk bertani, jadi saya manfaatkan apa yang ada. Hidroponik jawabannya,” ujar Wahyu pada Jumat (1/8/2025).

Wahyu memulai menekuni bidang pertanian secara otodidak. Tidak pernah mengikuti pelatihan resmi atau tergabung dalam komunitas pertanian, seluruh pengetahuan ia pelajari melalui internet dan YouTube. Dengan eksperimen dan adaptasi terhadap kondisi geografis setempat, Wahyu mengembangkan sistem yang mampu bertahan dan berkembang.

“Saya mulai dari sistem Wick, itu metode paling sederhana. Setelah yakin, saya beralih ke sistem NFT (Nutrient Film Technique) karena lebih cocok untuk skala usaha,” ungkapnya.

Kini, dari dua kebun yang dikelolanya, ia mampu memproduksi hingga 20- 40 kilogram sayuran per hari. Terutama pakcoy dan selada yang merupakan dua komoditas dengan permintaan pasar tinggi.

Jika dirata-ratakan dalam sehari menghasilkan pendapatan sebesar Rp 400.000 (40 Kg x Rp 10 ribu), maka dalam sebulan Wahyu bisa meraup omzet dari panen sayuran sebesar Rp 12 juta.

Untuk pemasaran, pada awalnya Wahyu hanya memanfaatkan media sosial, kini Wahyu telah menjalin kontrak tetap dengan sejumlah mitra. Namun dibalik capaian tersebut, perjuangan yang dijalani tidak ringan.

Modal awal menjadi tantangan utama. Sistem hidroponik membutuhkan  peralatan yang tidak murah. Selain itu, ketergantungan pada listrik menjadi risiko tersendiri.

“Pernah satu kali mati listrik empat jam lebih, padahal besoknya mau panen. Semua gagal,” ulasnya.

Meski telah bertahan selama lebih dari lima tahun, hingga kini Wahyu belum pernah menerima bantuan atau pelatihan dari pemerintah. Harapannya sederhana, ada perhatian yang merata, tidak hanya kepada kelompok tani, tetapi juga kepada individu yang serius dan konsisten membangun usaha dari nol.

“Kalau memang ada satu petani muda milenial yang bisa bertahan dan punya semangat, bantu dorong sampai berhasil. Jangan hanya fokus ke kelompok saja. Banyak juga yang kerja keras sendiri tapi tidak dilirik,” tegasnya. (MG1)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.