RADARSUMEDANG.id – Pengusaha dan tokoh publik Jusuf Hamka menyampaikan keprihatinannya atas aksi penjarahan rumah-rumah pejabat, termasuk milik Ahmad Sahroni, Eko Patrio, Uya Kuya, Nafa Urbach, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Ia mengungkap, berdasarkan informasi yang ia terima, bahwa pelaku aksi tersebut diduga berasal dari luar kota, bukan warga sekitar lokasi. “Saya dengar katanya itu orang-orang dari luar kota,” kata Jusuf Hamka.
Jusuf menilai bahwa aksi penjarahan tersebut bukan sekadar ledakan emosi lokal, melainkan diduga dimanfaatkan pihak tertentu sebagai alat destabilisasi, mirip skenario kerusuhan politik besar sebelumnya, seperti pada Mei 1998. “Saya teringat dengan peristiwa 98… Kalau tidak cepat ditanggulangi oleh aparat, tidak menutup kemungkinan kerusuhan bisa meluas ke etnis tertentu,” imbuhnya.
Informasi Jusuf Hamka ini sejalan dengan perkembangan lain dari pihak kepolisian. Belum lama ini, Diagram Siber Bareskrim Polri menangkap pasutri, yang diduga sebagai penghasut aksi penggerudukan rumah milik Sahroni melalui unggahan di media sosial. Tersangka SB (suami) menggunakan akun Facebook bernama Nannu untuk menyebarkan ajakan, sementara istrinya menggunakan akun Bambu Runcing. Pasangan tersebut diduga menggunakan grup WhatsApp untuk mengorganisir massa menuju lokasi.
Sementara itu, masyarakat lokal sekitar rumah-rumah yang dijarah turut ambil langkah berjaga. Warga dan aparat terlihat berjaga ketat, bahkan memasang spanduk dengan peringatan agar tidak ada orang luar yang memasuki lingkungan tersebut. Ini menjadi bentuk perlindungan atas privasi dan keamanan warga.(Net)







