RADARSUMEDANG.id, JATINANGOR – Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menegaskan bahwa gerakan menanam pohon tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi harus tumbuh menjadi kesadaran dan gaya hidup masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Penegasan tersebut disampaikan Bupati Dony di sela kegiatan penanaman bibit pohon di Area Konservasi Lingkungan Reklamasi Lahan Penghijauan Ria Kencana Putra, Blok Pasirbanteng, Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, baru-baru ini.
“Gerakan menanam pohon jangan berhenti di bibir tanah, tetapi harus tertanam di hati kita. Ini harus menjadi gaya hidup ke depan dalam menghadapi perubahan iklim,” ujar Dony.
Ia menjelaskan, kawasan konservasi tersebut juga akan dilengkapi dengan embung yang disiapkan oleh pemilik lahan untuk menampung air hujan. Air tersebut nantinya dimanfaatkan untuk menyiram tanaman agar pertumbuhannya tetap terjaga.
“Saya bahkan sudah menugaskan staf untuk mencatat koordinat pohon yang saya tanam. Jadi kalau suatu saat saya melintas di sini, saya bisa melihat langsung bagaimana perkembangannya,” ungkapnya.
Bupati Dony menekankan pentingnya memastikan seluruh pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik. Ia tidak ingin ada pohon yang mati atau terbengkalai setelah penanaman dilakukan.
“Saya tidak mau ada istilah pohon ini ditanam oleh bupati, tapi tidak tumbuh. Semua pohon yang ditanam harus jadi. Bahkan ke depan, kita bisa agendakan panen bersama,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dony juga menyampaikan bahwa di wilayah Sumedang Utara telah disiapkan sekitar 1.500 bibit pohon, dengan alokasi rata-rata 100 bibit untuk setiap desa. Ia optimistis gerakan ini akan menular dan mendorong masyarakat menanam pohon secara mandiri.
“Lahan di Jatinangor ini sebelumnya menjadi salah satu pemasok pasir untuk kebutuhan Proyek Strategis Nasional di Bandung Raya. Sekarang kita lakukan reboisasi. Alhamdulillah kondisinya sudah cukup hijau dan pihak perusahaan juga bersedia merawatnya,” jelas Dony.
Dukungan terhadap gerakan ekologis ini juga disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Sumedang Fraksi PKB Dapil Jatinangor–Cimanggung, Herman Habibullah. Menurutnya, gerakan penanaman pohon memiliki makna yang lebih luas, tidak hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga budaya dan spiritual.
“Ini bukan sekadar program lingkungan, tetapi bagian dari sedekah bumi. Sebuah ikhtiar budaya dan spiritual masyarakat Sunda dalam merawat alam,” tutur Herman.
Ia menegaskan filosofi Nata Alam Ku Budaya Melak Tangkal sebagai pesan utama kegiatan tersebut. Menurutnya, menanam pohon merupakan bagian dari kearifan lokal untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
“Jangan berhenti di menanam. Tanam, rawat, dan tumbuhkan. Itu kuncinya. Pohon yang hidup dan tumbuh besar adalah investasi ekologis bagi generasi Sumedang ke depan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Sumedang, Wasman, mengatakan bahwa gerakan penanaman pohon ini melibatkan seluruh perangkat daerah hingga tingkat desa.
“Setiap perangkat daerah wajib menyediakan minimal 50 pohon, sedangkan setiap desa dan kelurahan menyediakan 100 pohon,” jelas Wasman.
Ia menambahkan, jenis pohon yang ditanam cukup beragam, mulai dari tanaman keras, kayu-kayuan, pohon buah-buahan hingga MPTS (Multi Purpose Tree Species). Pohon-pohon tersebut akan ditanam di lahan kritis dan ruang terbuka hijau yang tersebar di 277 desa dan kelurahan sebagai upaya memperkuat ketahanan lingkungan di Kabupaten Sumedang. (jim)





