Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir Tekankan Pengelolaan Sampah dari Hulu ke Hilir

oleh
Pengangkutan sampah oleh Karang Taruna Dusun Babakan Panyindangan, Kecamatan Buahdua dengan menggunakan gerobak sorong. Keterbatasan armada pengangkut sampah masih menjadi tantangan tersendiri sekaligus PR bagi DLHK Kabupaten Sumedang.

RADARSUMEDANG.id, SUMEDANG SELATAN – Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sumedang untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) melalui pengelolaan sampah dari hulu ke hilir.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah mendorong pemilahan sampah sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga. Menurut Dony, pengelolaan sampah harus diawali dengan pemetaan kondisi desa secara menyeluruh.

Ia meminta agar desa-desa yang telah memiliki Tempat Pengolahan Sampah (TPS) didata dan diklasifikasikan berdasarkan kinerjanya, apakah masuk kategori A, B, atau C, sehingga penanganannya dapat disesuaikan.

“Coba data desa yang sudah memiliki TPS, lalu dipilah mana yang kinerjanya baik dan mana yang masih perlu didorong. Dari situ bisa ditentukan perlakuan yang berbeda-beda,” kata Dony usai menyerahkan 38 unit kendaraan roda tiga pengangkut sampah di Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Sumedang, Senin (5/1/2026).

Ia menegaskan, penanganan sampah tidak bisa disamaratakan karena setiap desa memiliki karakteristik dan kemampuan yang berbeda. Oleh karena itu, strategi pengelolaan harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Dony juga menekankan pentingnya pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, dimulai dari rumah tangga sebagai sumber utama sampah. Menurutnya, pengurangan sampah hanya bisa tercapai jika masyarakat melakukan pemilahan sejak awal.

“Kita ingin ada pengurangan sampah dari sumbernya. Artinya, sampah harus dipilih dan dipilah sejak dari rumah,” ujarnya.

Dalam pengelolaannya, Dony mengingatkan pentingnya penerapan prinsip 3R, yakni reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang).

“Reuse mana yang masih bisa digunakan kembali, reduce dikurangi, dan recycle yang bisa didaur ulang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dony menyebut pengelolaan sampah dari hulu ke hilir memberikan sedikitnya empat manfaat bagi masyarakat. Pertama, manfaat ekonomi melalui pembentukan bank sampah. “Minimal satu bank sampah di setiap wilayah sudah memberikan nilai ekonomi,” katanya.

Kedua, lingkungan menjadi lebih sehat karena bersih dan terhindar dari sumber penyakit. Ketiga, menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Keempat, membentuk perilaku masyarakat yang lebih peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Selain di tingkat desa, Dony juga mendorong pengolahan sampah di setiap lembaga. Untuk itu, ia telah mengeluarkan surat edaran yang menginstruksikan lembaga pendidikan, kantor pemerintahan, dinas, instansi, hingga tempat usaha agar memiliki tempat pengolahan sampah sendiri.

“Saya sudah menginstruksikan melalui surat edaran, setiap lembaga pendidikan, tempat usaha, kantor, dan dinas harus memiliki tempat pengolahan sampah,” tegasnya.

Ke depan, sampah di setiap lingkungan diharapkan dipisahkan antara organik dan anorganik, lalu diolah di lokasi masing-masing agar volume sampah yang dibuang ke TPSA dapat diminimalkan.

“Saya juga kembali mengingatkan masyarakat Sumedang agar tidak membuang sampah sembarangan dan mulai mengelola sampah secara mandiri. Kita bisa lihat Sungai Cimande, dulu sampah mengambang luar biasa. Setelah dipasang jaring besar dan ada yang mengangkut, sampah bisa dikendalikan dan banjir pun berkurang,” pungkasnya. (jim)

No More Posts Available.

No more pages to load.