RSUD Umar Wirahadikusumah Buka Layanan Operasi SBL Pertama di Jawa Barat

oleh

RADARSUMEDANG.id, KOTA – RSUD Umar Wirahadikusumah resmi membuka layanan operasi bedah saraf fungsional melalui prosedur Stereotactic Brain Lesion (SBL) bagi penderita Parkinson dan gangguan gerak. Layanan ini menjadi yang pertama di Jawa Barat.

Operasi perdana sekaligus peluncuran layanan tersebut dilaksanakan oleh dokter spesialis bedah saraf RSUD Umar Wirahadikusumah, dr. Arief Setia Handoko, Rabu (11/2).

Proses operasi disaksikan secara langsung melalui live streaming oleh Direktur RSUD Umar Wirahadikusumah, dr. Enceng, bersama jajaran manajemen rumah sakit.

Direktur RSUD UW, dr. Enceng, mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran operasi perdana tersebut.

“Alhamdulillah bisa berjalan dengan baik. Saya ucapkan terima kasih kepada media yang sudah hadir. Semoga informasi ini bisa bermanfaat, bahwa pasien-pasien yang selama ini dianggap sulit mendapatkan kesembuhan, seperti Parkinson bila hanya menggunakan obat saja, dengan gejala seperti itu tanpa obat pun berjalan saja sulit,” kata Enceng.

Ia menjelaskan, pasien yang menjalani operasi SBL tersebut telah mengidap Parkinson selama delapan tahun. Bahkan dalam satu bulan terakhir, pasien tidak lagi mampu beraktivitas dan hanya terbaring di tempat tidur.

“Pasien ini sudah delapan tahun menderita penyakit ini. Satu bulan terakhir sudah tidak bisa beraktivitas, hanya berbaring di tempat tidur saja. Jadi gangguan geraknya, baik tangan maupun kaki, sangat berat,” katanya.

Menurut Enceng, operasi SBL di RSUD Umar Wirahadikusumah merupakan yang pertama di Jawa Barat dan termasuk tindakan medis yang masih jarang dilakukan.

Keberadaan dr. Arief sebagai dokter spesialis bedah saraf yang kini bertugas tetap di RSUD Umar Wirahadikusumah menjadi salah satu faktor pendukung dibukanya layanan tersebut.

“Kebetulan dokter spesialis bedah saraf ini memang asli dari RSUD Umar Wirahadikusumah. Sejak beliau bergabung di rumah sakit ini dari Mojokerto, layanan ini bisa kami kembangkan,” tuturnya.

Ia menambahkan, dr. Arief telah aktif praktik setiap hari di RSUD Umar Wirahadikusumah dan jadwalnya dapat diakses melalui sistem RSUD Online.

“Jadwal bisa dilihat melalui RSUD Online, sudah ada nama dr. Arief Setia Handoko, Spesialis Bedah Saraf. Jadi memang aktif di sini,” katanya.

Lebih lanjut, dr. Enceng menjelaskan bahwa indikasi tindakan brain stimulation atau SBL ditujukan untuk pasien dengan gangguan gerak, seperti tremor berat dan kesulitan melakukan aktivitas motorik halus.

“Kalau dilihat seperti tremor, menulis pun sulit karena saking tremornya. Membuat lingkaran tidak bisa, menggambar tidak bisa. Biasanya ini sangat mengganggu pada profesi yang menuntut gerak tangan,” ujarnya.

Ia mencontohkan pasien yang dioperasi merupakan seorang notaris yang pekerjaannya sangat bergantung pada ketelitian gerak tangan.

“Kebetulan pasien kita ini seorang notaris, sehingga mengganggu aktivitasnya ketika bergerak. Secara fisik dia bisa berkomunikasi, tetapi anggota geraknya mengalami gangguan,” jelasnya.

Gejala lain yang umum ditemukan pada penderita Parkinson, lanjutnya, antara lain gangguan keseimbangan saat berjalan.

“Kalau jalan tidak seimbang, kadang seperti mau tersungkur karena sulit melangkahkan kaki saja,” ujar Enceng.

Lebih jauhnya, agi masyarakat yang ingin mendapatkan layanan SBL, Enceng menyarankan untuk terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah saraf guna memastikan indikasi medis.

“Saran saya langsung konsultasi ke dokternya, karena nanti akan ditentukan apakah ini memang kasus yang tepat untuk dilakukan operasi atau harus diperbaiki dulu keadaannya,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya konsultasi terkait penjaminan biaya. Menurutnya, pasien yang telah menjalani operasi SBL di RSUD Umar Wirahadikusumah tidak mengeluarkan biaya karena ditanggung BPJS Kesehatan atau JKN.

*Kami sampaikan pasien yang kami operasi ini tidak mengeluarkan biaya, artinya bisa di-cover oleh BPJS atau JKN. Tetapi ketentuannya sekarang masih berlaku kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ujarnya.

Ke depan, ia menambahkan, sistem pembiayaan kemungkinan akan beralih ke skema tarif tunggal sesuai kebijakan BPJS.

“Ketarifan ini sangat penting, mengingat biaya operasi pasien ini jika berbayar sendiri sekitar Rp74 juta. Saya kira ini cukup mahal dan cukup tinggi untuk masyarakat pada umumnya. Jadi kalau di-cover BPJS, tentunya kami harapkan tidak ada biaya yang dikeluarkan,” tuturnya. (gun/b)

No More Posts Available.

No more pages to load.