Saatnya “Reboot” Zakat dan Ekonomi Umat di Bulan Ramadhan

oleh

Oleh: KH. Dr. Ade Jamarudin, SS, MA

RAMADHAN selalu datang dengan dua wajah yang kontradiktif. Di satu sisi, ia adalah bulan penyucian jiwa dan pengendalian diri; namun di sisi lain, ia kerap hadir dengan lonjakan harga bahan pokok dan keriuhan konsumerisme yang menjulang. Kita melihat pusat perbelanjaan penuh sesak, namun di sudut gang yang sama, mungkin ada tetangga yang sedang menghitung sisa beras dengan cemas. Inilah paradoks yang perlu kita urai. Ramadhan seharusnya tidak hanya menjadi ritual “menahan lapar” secara personal, melainkan momentum kolektif untuk melakukan “reboot” atau menyetel ulang tatanan ekonomi umat yang timpang.

Zakat, Infaq, dan Shadaqah (ZIS) bukanlah sekadar instrumen pelengkap ibadah, melainkan sebuah sistem distribusi kekayaan yang revolusioner. Dalam kacamata sosiologi Islam, ZIS adalah cara Tuhan “memaksa” harta agar tidak hanya berhenti di segelintir tangan, melainkan mengalir membasahi akar rumput yang kering. Jika selama sebelas bulan mesin ekonomi kita berjalan dengan logika akumulasi (menumpuk), maka di bulan suci ini, kita menekan tombol reset untuk kembali pada logika distribusi. Kita diingatkan kembali bahwa dalam harta yang kita genggam, terdapat hak-hak fakir miskin yang wajib ditunaikan (QS. Al-Dzariyat: 19).

Mengubah Paradoks Konsumsi

Fenomena yang sering terjadi adalah peningkatan pengeluaran rumah tangga justru saat kita berpuasa. Anggaran belanja seringkali membengkak demi menu buka puasa yang mewah atau persiapan lebaran yang berlebihan. Di sinilah pentingnya melakukan reboot mentalitas. Alokasi dana yang biasanya lari ke arah konsumsi impulsif, seharusnya dialihkan menjadi investasi sosial melalui zakat dan sedekah.

Bayangkan jika potensi zakat mal dan fitrah di daerah kita dikelola bukan sekadar untuk konsumsi sesaat di malam takbiran, melainkan dikonversi menjadi modal produktif bagi usaha mikro pasca-Ramadhan. Dengan membayar zakat lebih awal dan menyalurkannya melalui lembaga yang amanah, kita sedang memberikan “nafas buatan” bagi ekonomi masyarakat bawah yang sedang terhimpit inflasi. Zakat yang tepat sasaran mampu memutus rantai ketergantungan kaum dhuafa pada pinjaman tidak resmi (pinjol) yang seringkali mencekik di saat-saat mendesak seperti menjelang Idul Fitri.

Zakat Sebagai Jaring Pengaman Sosial

Bagi seorang akademisi Muslim, kita melihat ZIS sebagai Social Safety Net (Jaring Pengaman Sosial) yang paling mandiri. Ia tidak bergantung pada APBN, melainkan pada kesadaran iman. Momentum Ramadhan adalah waktu terbaik bagi kita untuk membuktikan bahwa kesalehan ritual seorang Muslim haruslah berbanding lurus dengan kesalehan sosialnya. Tidaklah sempurna puasa seseorang jika ia tidur dalam keadaan kenyang, sementara ia tahu tetangganya kelaparan.

Maka, reboot ekonomi umat harus dimulai dari lingkungan terkecil. Lihatlah ke kanan dan ke kiri. Pastikan bahwa zakat dan infaq kita menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan di sekitar kita. Digitalisasi zakat melalui QRIS atau aplikasi juga harus disambut baik sebagai bentuk “Shaleh Digital”, memudahkan kita untuk bersedekah kapan pun tanpa alasan tertunda.

Sebagai penutup, mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai titik balik. Kesuksesan puasa kita tidak diukur dari seberapa banyak undangan buka bersama yang kita hadiri, melainkan dari seberapa besar dampak keberadaan kita bagi kesejahteraan orang lain.

Idul Fitri yang hakiki bukan ditandai dengan baju baru di badan, melainkan dengan ketersediaan pangan di meja makan saudara-saudara kita yang dhuafa. Mari menekan tombol reboot itu sekarang juga. Puasa melatih kita menahan lapar agar kita memiliki empati, dan zakat adalah aksi nyata untuk memastikan tidak ada lagi orang lain yang kelaparan.(*)

*)Lembaga Waqaf ZIS MUI Sumedang

No More Posts Available.

No more pages to load.