RADARSUMEDANG.id, SUBANG- Harapan di awal pagi Kampung Kepuh harus selalu dimulai dengan langkah hati-hati. Selama bertahun-tahun aliran sungai memisahkan Kampung Kepuh dengan pusat Desa Sukahurip. Cerita itu bukan kenyataan baru bagi warga Kampung Kepuh, Desa Sukahurip, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang.
Sungai yang membentang dan mengalir di antara ladang-ladang hijau selama ini menjadi penghalang yang menyulitkan kehidupan sehari-hari warga.
Anak-anak yang hendak berangkat sekolah, Petani yang ingin menjual hasil panen hingga warga yang membutuhkan akses cepat ke pusat desa. Namun di balik kesulitan yang selama ini mengurung, harapan perlahan-lahan membuka gembok kuncinya.
Pembangunan Jembatang Gantung Garuda dengan panjang 50 meter dan lebar 1,2 meter yang kini tengah dikerjakan menjadi simbol perubahan bagi warga. Bukan sekadar konstruksi baja dan tali penyangga, jembatan itu hadir seperti harapan baru bahwa keterbatasan perlahan akan berkurang. Kehidupan yang lebih mudah serta aman kini mulai tampak di depan mata.
Setiap hari, tangan-tangan dari Prajurit TNI Kodim 0605/Subang beserta warga merakit rangka besi di atas bentangan sungai. Terik matahari yang terasa lebih menusuk, perut kosong karena menjalani puasa dan tenggorokan yang terasa kering tidak menyurutkan semangat kebersamaan mereka.
Puasa tidak menjadi alasan untuk memperlambat langkah. Justru sebaliknya, kebersamaan yang terbangun di lokasi pembangunan membuat semua orang tetap berenergi.
Sejak awal pengerjaan, mereka bekerja berdampingan. Mulai dari membersihkan lokasi, meratakan tanah, memasang bowplang, menggali pondasi, hingga kini masuk ke tahap pengecoran dan perakitan lanjutan.
Tak ada jarak di antara mereka. Seragam militer dan pakaian kerja warga melebur menjadi satu di antara tumpukan pasir dan batu.
Di tengah rasa lapar dan dahaga, mereka tetap bekerja dengan tekad yang sama. Menyelesaikan jembatan yang kelak akan memudahkan kehidupan masyarakat. Keringat yang menetes siang itu terasa seperti bagian dari ibadah, sebuah pengorbanan kecil demi harapan besar bagi Kampung Kepuh.
Rasa syukur terdengar dari warga yang setiap hari menyaksikan proses pembangunan tersebut. Seorang petani yang biasa menyeberangi sungai untuk membawa hasil panennya mengungkapkan harapannya.
“Terima kasih kepada bapak-bapak TNI yang sudah membantu membangun jembatan ini. Kami jadi punya harapan besar, nanti tidak perlu lagi memutar jauh atau takut menyeberang kalau air sungai sedang besar,” ucap Asep tersenyum haru, Kamis (5/3)
Ucapan yang sama juga datang dari anak-anak sekolah yang selama ini harus berjibaku dengan medan sulit setiap kali berangkat belajar. Dengan wajah polos dan penuh harap, salah satu dari mereka berkata.
“Kalau jembatannya sudah jadi, kami bisa lebih cepat ke sekolah. Tidak takut lagi kalau hujan atau air sungai naik. Terima kasih banyak, Pak TNI,” ucap Tini penuh harap. (Anr)





