Puasa Plastik, Menjemput Berkah “Mulasara Alam”

oleh

Oleh : M. Zenal Muttaqin

(Sekretaris VI MUI Kab. Sumedang)

RADARSUMEDANG.id — TAHUN ke tahun, dunia akan berputar sampai pada apa yang semestinya datang, fakullu maa hua aatin-aatun. Ramadhan hadir setelah Rajab dan Sya’ban. Rasulullah mencontohkan supaya terus menerus selama 3 (tiga) bulan dari sejak bulan Rajab dimintakan kepada Allah SWT keberkahan. Di berbagai media termasuk media sosial viral sebutan Ramadhan Mubarok, “Ramadhan yang diberkati” atau “Selamat Datang Ramadhan yang penuh berkah”.

Meskipun sering diartikan sebagai “Selamat Ramadhan”, makna Ramadhan Mubarak sebenarnya lebih dalam dari sekadar ucapan selamat biasa. Ungkapan ini menyiratkan pengharapan agar seseorang memperoleh kebaikan dan rahmat Allah SWT yang berlimpah selama bulan suci Ramadhan.

Dalam tradisi Islam, Bulan Ramadhan dipercaya sebagai bulan yang penuh berkah dan kemuliaan. Oleh karena itu, ucapan Ramadhan Mubarak menjadi cara umat Muslim untuk saling mengingatkan tentang keistimewaan bulan ini dan mendoakan kebaikan bagi sesama.

Dalam rangka itulah tulisan sederhana ini disusun, agar kita saling mengingatkan kualitas ibadah di bulan Ramadhan kita, bukan hanya ibadah mahdhoh tapi ibadah ghoer mahdhohnya.

Sampah Dalam Angka

Bayangkan pagi hari di bulan Ramadan, udara Sumedang yang sejuk merasuk ke pori-pori, kicau burung di dahan pohon jati atau pinus terdengar seperti tasbih alam yang syahdu. Namun, coba tengok ke pinggir jalan atau sudut pasar kaget sore harinya. Apa yang kita lihat? Tumpukan plastik takjil, sisa makanan yang terbuang, hingga botol minuman sekali pakai yang berserakan.

Ramadan yang seharusnya menjadi momen “Imsak” (menahan diri), terkadang justru menjadi puncak “nyampah” massal. Inilah saatnya kita merenung: Benarkah puasa kita sudah membawa berkah bagi alam, atau justru menjadi beban bagi bumi ?

Data tidak bisa berbohong. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Menlhk) RI tahun 2023, tumpukan sampah tahunan di Kabupaten Sumedang mencapai sekitar 155.195 ton. Mirisnya, komposisi sampah terbesar didominasi oleh sisa makanan dan plastik. Di bulan Ramadan, volume sampah rumah tangga ini biasanya melonjak antara 15% hingga 20%. Ini adalah sebuah paradoks; bulan di mana kita diajarkan untuk merasakan lapar, justru menjadi bulan di mana kita paling banyak membuang makanan. 2

Membiarkan sampah plastik menumpuk dan membiarkan makanan mubazir adalah bentuk kerusakan nyata. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa pemboros adalah “saudara setan” (QS. Al-Isra: 27). Maka, Puasa Sampah bukan sekedar gaya hidup, tapi bagian dari kesalehan iman.

Tinjauan Teologis: Alam Sebagai Amanah

Islam memandang alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan amanah. Dalam pandangan Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradawi, seorang ulama kontemporer terkemuka, perlindungan lingkungan hidup dalam Islam didasarkan pada prinsip perlindungan terhadap lima kebutuhan pokok (Al-Dharuriyyat al-Khams), di mana menjaga lingkungan merupakan bagian dari menjaga keberlangsungan hidup manusia (Hifdz an-Nafs).

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56). Ulama tafsir seperti Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kerusakan yang dimaksud mencakup segala tindakan yang merusak ekosistem dan mengganggu keseimbangan hidup makhluk Allah.

Penting bagi Wargi Sumedang ketahui bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan Fatwa No. 47 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan. Fatwa ini menyatakan bahwa setiap muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan dan mengelola sampah dengan baik. Membuang sampah sembarangan yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain atau alam hukumnya adalah haram.

Menjaga Asri, Meraih Fitri

Keberhasilan Ramadan tidak hanya diukur dari kemenangan kita melawan rasa lapar, tapi juga kemenangan kita melawan ego konsumtif yang merusak alam. Kita ingin mewujudkan Sumedang yang tidak hanya “campernik” sebagaimana lagu yang dikumandangkan doel soembang, tapi juga “Asri-Resik” lingkungannya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumedang dalam pesan khusus ramadhannya. Dimana beliau menyampaikan ajakan di Bulan Ramadhan 1447 H ini dengan beberapa ajakan diantaranya : Geber BBM (Berakan Bersama Bersih-bersih Masjid), Revolusi Ta’zil (mengurangi penggunaan plastik sekali pakai) dan sedekah jariah pohon.

Mari kita jemput keberkahan Ramadan tahun ini dengan langkah nyata. Biarlah bumi Sumedang tetap hijau dan udaranya tetap segar untuk anak cucu kita kelak. Sebab, kesalehan sejati adalah saat kita mampu mencintai Sang Pencipta melalui cara kita menjaga ciptaan-Nya. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan 1447 H.(*)

*) Penulis adalah Kepala Seksi Bimas Islam Pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumedang, Wk. Sekretaris Pada MUI Kabupaten Sumedang

No More Posts Available.

No more pages to load.