Oleh: Dr. Ir. Dudi, S.Pt., M.Si., IPM
RADARSUMEDANG.id –– Setiap menjelang Hari Raya Idul Adha, gairah umat Islam di Jawa Barat untuk berkurban selalu meningkat. Dalam konteks ini, Domba Garut senantiasa menjadi pilihan utama. Posturnya yang gagah, pesona tanduk yang megah, serta kualitas daging yang istimewa menjadikannya simbol persembahan terbaik. Namun dibalik syiar yang luhur ini, terdapat ancaman kelangkaan bibit unggul akibat pola serapan pasar tahunan yang belum berputar secara sirkular dan seimbang.
Ibadah kurban bukan sekedar ritual menyembelih. Ruh dari kurban adalah ketakwaan dan memberikan yang terbaik (ihsan). Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita untuk memilih hewan cukup umur, sehat, gemuk, dan tanpa cacat. Dalam peternakan modern, mencari hewan terbaik sejalan dengan prinsip pemuliaan ternak: merawat, menjaga garis keturunan (genetik), dan memastikan kesejahteraan hewan (animal welfare). Rasulullah SAW bersabda, “ Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan atas segala sesuatu … jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik” (HR. Muslim). Memuliakan Domba Garut dengan menjaga silsilahnya adalah bagian dari manifestasi ibadah itu sendiri.
Tantangan besarnya adalah pola linear pasar saat ini. Demi memenuhi tingginya permintaan, Domba Garut jantan dengan mutu genetik tertinggi (pejantan super) justru sering kali langsung dilepas ke pasar kurban sebelum sempat mewariskan keturunannya. Akibatnya, peternakan rakyat kekurangan pejantan berkualitas, perkawinan ternak lokal mengandalkan pejantan seadanya, dan karakteristik fisik Domba Garut perlahan merosot dari generasi ke generasi. Untuk itu, kita perlu bermigrasi ke pola sirkular. Melalui pendekatan ini, esensi kebaikan dari genetik unggul tidak terhenti di pisau jagal, melainkan terus berputar untuk memakmurkan peternakan rakyat. Ada tiga langkah nyata yang dapat ditempuh bersama:
- Sistem Pewarisan Genetik Sebelum Kurban: Sebelum domba jantan super dijual, peternak harus memastikan domba tersebut telah mengalirkan garis keturunannya kepada beberapa betina pilihan atau melalui penyimpanan semen beku. Dengan demikian, “warisan” sifat terbaiknya tetap lestari di bumi.
- Penguatan Lembaga Peternak Rakyat: Keterbatasa ekonomi sering memaksa peternak kecil menjual aset terbaiknya lebih awal. Kelompok ternak atau koperasi harus hadir sebagai “penjaga gerbang genetik” untuk menahan domba super sebagai pemacek desa, sementara yang dipasarkan adalah domba prima yang memenuhi syariat tanpa mengorbankan bibit utama.
- Edukasi Konsumen Kurban: Masyarakat perlu diajak memahami bahwa berkurban tidak harus menyembelih “mascot” atau raja domba yang merupakan aset plasma nutfah nasional. Memilih domba yang sehat, cukup umur, dan gemuk sudah sangat mulia di sisi Allah SWT.
Maka dari itu, menyelaraskan permintaan kurban dan keberlanjutan Domba Garut adalah wujud nyata rasa syukur atas karunia Allh SWT. Dengan menerpakan sirkulasi mutu genetik, peternakan rakyat akan selalu memiliki modal bibit unggul, dan umat Muslim di masa depan tetap dapat berkurban dengan kualitas Domba Garut terbaik. Menjaga kelestarian Domba Garut adalah bagian dari menunaikan amanah dalam merawat bumi.(*)
*)Pakar Pemuliaan Ternak Tropik Fakultas Peternakan Unpad





