Oleh : Yumna Siti Adiba (240210240052) & Vira Azzahra C (240210240053)
RADARSUMEDANG.id — Persoalan food loss atau limbah pangan masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2021), jumlah Food Loss and Waste (FLW) di Indonesia mencapai 23–48 juta ton per tahun. Sementara itu, Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024 mencatat bahwa sekitar 40% sampah di Indonesia berasal dari sisa makanan dan bahan pangan. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan pemborosan sumber daya, tetapi juga berdampak pada lingkungan.
Limbah pangan yang dibiarkan menumpuk akan mengalami pembusukan dan menghasilkan gas metana (CH₄), yaitu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Selain itu, timbunan limbah pangan dapat menjadi tempat berkembangnya berbagai vektor penyakit seperti lalat, tikus, dan kecoa. Padahal, banyak limbah pangan seperti kulit buah, sisa sayuran, dan limbah hasil pengolahan pangan masih mengandung nutrisi yang dapat dimanfaatkan kembali.
Salah satu cara sederhana untuk mengurangi food loss adalah mengolahnya menjadi pupuk organik cair. Proses ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan limbah organik rumah tangga seperti sisa sayuran dan kulit buah. Selain membantu mengurangi timbunan sampah, pupuk organik yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman.
Pembuatan pupuk organik cair diawali dengan pengumpulan limbah pangan yang kemudian dicacah menjadi ukuran lebih kecil melalui proses size reduction. Tahap ini bertujuan memperluas permukaan bahan sehingga proses penguraian oleh mikroorganisme berlangsung lebih cepat. Selanjutnya, limbah dicampur dengan air, EM4, dan molase atau larutan gula, kemudian difermentasi dalam wadah tertutup selama beberapa hari hingga beberapa minggu.
Setelah fermentasi selesai, campuran didiamkan agar partikel padat mengendap melalui proses sedimentasi. Tahap berikutnya adalah separasi atau penyaringan untuk memisahkan pupuk cair dari endapan padat. Cairan hasil penyaringan dapat digunakan sebagai pupuk organik cair, sedangkan endapan padatnya masih dapat dimanfaatkan sebagai kompos.
Penerapan teknik size reduction dan separasi berperan penting dalam meningkatkan efektivitas pengolahan limbah pangan. Dengan pengelolaan yang tepat, food loss tidak lagi hanya menjadi sampah, tetapi dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan dan pertanian. Langkah sederhana ini dapat menjadi solusi berkelanjutan untuk mengurangi sampah organik sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan sisa bahan pangan secara lebih bijak.(*)
*) Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Padjadjaran





