Konser Nasyid Nostalgia Sukses Bangkitkan Memori Era 2000-an, Shoutul Harokah Tutup Panggung dengan “Indonesia Memanggil”

oleh
Penampilan Shoutul Harokah dalam konser Nasyid Nostalgia 2026 yang digelar di Sanctuary Auditorium, Menara Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (1/8). (@shoutulharokah)

RADARSUMEDANG.id, JAKARTA– Kerinduan para pencinta nasyid terhadap lagu-lagu era 2000-an terobati dalam Konser Nasyid Nostalgia 2026 yang digelar di Sanctuary Auditorium, Menara Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (1/8).

Konser yang digelar oleh Trust Entertainment tersebut sukses menghadirkan tiga grup nasyid legendaris Indonesia, yakni Shoutul Harokah, Snada, dan The Fikr, dalam satu panggung yang penuh kenangan. Hingga akhir konser berhasil terhimpun donasi sebesar lebih dari 218 juta yang akan diberikan untuk kemanusiaan bagi Palestina.

Sejak dimulai pukul 13.00 WIB, suasana auditorium dipenuhi antusiasme penonton dari berbagai daerah. Mereka larut dalam lantunan lagu-lagu yang pernah menjadi soundtrack perjuangan dakwah kampus, majelis taklim, hingga berbagai kegiatan keislaman pada awal dekade 2000-an.

Sesuai dengan tajuknya, konser benar-benar membawa penonton bernostalgia. Ketiga grup tampil dengan karakter musik yang berbeda namun saling melengkapi.

Shoutul Harokah membuka penampilannya dengan sederet lagu bertema perjuangan yang menjadi ciri khas mereka. Irama drum yang menghentak dipadukan dengan harmoni vokal yang lantang membuat suasana konser terasa penuh semangat.

Sementara itu, Snada menghadirkan nuansa yang lebih lembut melalui harmonisasi vokal khas mereka. Grup pelopor nasyid modern Indonesia tersebut membawakan sejumlah lagu yang selama puluhan tahun dikenal luas di kalangan pencinta musik Islami.

Berbeda lagi dengan The Fikr yang menyuguhkan lagu-lagu bertema cinta dalam Islam dengan aransemen yang syahdu dan mendayu. Penampilan grup asal Bandung tersebut mendapat sambutan hangat dari penonton yang ikut bernyanyi bersama.

Salah seorang personel Shoutul Harokah, H. Ridwan Solichin, mengatakan konser tersebut menjadi momentum mempertemukan kembali para pencinta nasyid lintas generasi.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur masih diberi kesempatan berkumpul bersama para sahabat seperjuangan di dunia nasyid. Ternyata lagu-lagu yang kami bawakan puluhan tahun lalu masih hidup di hati para pecintanya. Ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berkarya dan berdakwah melalui musik,” ujarnya.

Menurut Kang Rinso, sapaannya, kehadiran Shoutul Harokah, Snada, dan The Fikr dalam satu panggung juga menunjukkan bahwa musik nasyid memiliki kekayaan warna dan karakter yang mampu menjangkau berbagai kalangan.

Momen paling emosional terjadi menjelang berakhirnya konser. Seluruh personel dari ketiga grup naik ke atas panggung dan bersama-sama menyanyikan lagu “Indonesia Memanggil”, karya Shoutul Harokah yang sarat pesan nasionalisme dan kecintaan terhadap Tanah Air.

Sekitar 1000 penonton yang memenuhi auditorium ikut berdiri dan menyanyikan lagu tersebut hingga akhir. Tepuk tangan panjang mengiringi penutupan konser yang meninggalkan kesan mendalam bagi para penggemar nasyid.

Ridwan menilai dipilihnya “Indonesia Memanggil” sebagai lagu penutup memiliki makna khusus.

“Lagu ini mengajak seluruh anak bangsa untuk bangkit, bersatu, dan terus berkarya demi Indonesia. Kami ingin menutup konser bukan hanya dengan nostalgia, tetapi juga dengan semangat untuk memberikan kontribusi terbaik bagi negeri,” tuturnya.

Foto: web.safarfriendly.com

Konser Nasyid Nostalgia 2026 sendiri menjadi ajang yang mempertemukan tiga ikon nasyid Indonesia dari lintas genre.

Snada yang berdiri sejak 1991 dikenal sebagai pelopor nasyid modern Indonesia melalui harmonisasi vokal acappella dan melahirkan lagu-lagu populer seperti Neo Shalawat, Jagalah Hati, Teman Sejati, hingga Demi Matahari.

Adapun The Fikr yang lahir dari lingkungan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid Bandung pada 1995 memiliki karakter musik yang lembut dan religius melalui lagu-lagu seperti Karunia-Mu, Cinta, Wanita Sholehah, dan Hidayah Ilahi.

Sementara Shoutul Harokah yang didirikan pada 31 Desember 2001 dikenal sebagai ikon nasyid haraki di Indonesia. Grup asal Bandung tersebut identik dengan lagu-lagu bertema perjuangan, kemanusiaan, dan nasionalisme, seperti Gelombang Keadilan, Palestina Tercinta, Hadapilah, Bingkai Kehidupan, hingga Indonesia Memanggil.

Antusiasme penonton juga terlihat dari berbagai tanggapan di media sosial. Salah satu warganet, @lailauma_ag12, mengaku terkesan dengan kolaborasi ketiga grup tersebut.

“MasyaaAllah… Tabaarakallah. Dengar lagu ini baru tahu nada dan lirik ciptaannya bagus sekali. Kolaborasi semua artis kompak. Semoga seluruh penasyid dan kru selalu diberkahi Allah. Terus berkarya.”

Komentar serupa disampaikan akun @mia_kusmana yang menyebut Shoutul Harokah tetap menjadi grup nasyid penyemangat dengan lirik-lirik yang sarat makna.

“Barakallah fiikum. Jazakumullah khair. Shoutul Harokah selalu jadi nasyid penyemangat. Musik dan liriknya sangat bermakna. Jadi teman saat mengantar anak-anak ke sekolah.” (Rik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.