RADARSUMEDANG.ID – Sejumlah rangkaian kegiatan Festival Tradisi Karaton Sumedang Larang bakal digelar sejak Kamis, 13 Agustus 2026 hingga Selasa, 25 Agustus 2026 nanti. Rangkaian kegiatan diawali dengan Nyuguh Ageung pada Kamis, 13 Agustus 2026 pukul 18.30 hingga selesai.
Sedangkan acara inti yaitu Kirab Alit dan Jamasan Pusaka pada Jumat, 14 Agustus 2026 pukul 14.00 hingga selesai. Pihak penyelenggara juga mengadakan Bazaar UMKM pada Jumat hingga Minggu, 14-16 Agustus 2026. Rangkaian acara diakhiri dengan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Selasa, 25 Agustus 2026 pukul 09.00.
Radya Anom Keraton Sumedang Larang (KSL), Raden Luky Djohari Soemawilaga menjelaskan, Kirab Alit dan Jamasan Pusaka pada Jumat, 14 Agustus 2026 dimulai pukul 14.00 bertempat di Pelataran dan Gedung Srimanganti Karaton Sumedang Larang. Bale Agung Srimanganti Karaton Sumedang Larang berlokasi Jalan Prabu Geusan Ulun, Nomor 40-B, Kelurahan Regol Wetan, Kabupaten Sumedang.
Roundown acara khusus pada Jumat, 14 Agustus 2026, pada pukul 14.00 – 15.00 persiapan dan turun pusaka dari gedung pusaka. Sedangkan pada pukul 15.15 – 16.30 Kirab Pusaka Alit sekitar Alun-alun Sumedang. Dilanjutkan pada pukul 16.30 – 18.00 kobulan dan jamasan pusaka serta diakhiri pada pukul 18.00 berupa Isoma hingga selesai.
Raden Luky mengatakan, maksud tujuan acara jamasan pusaka untuk merawat pusaka-pusaka Sumedang Larang agar tetap terjaga, terpelihara bersih dari karat dan korosi yang merusak pusaka-pusaka. “Jamasan dalam bulan maulud memiliki simbol dan makna bahwa manusia harus menyucikan diri dari hal-hal buruk, untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” sebutnya.
Dalam rangkaian jamasan terdapat acara “kobulan” sebagai rasa syukur atas segala karunia yang diberikan Yang Maha Kuasa, dengan membagikan hasil bumi dan lain-lain ke masyarakat yang hadir menyaksikam acara jamasan ini. “Acara jamasan pusaka sebagai wadah interaksi sosial dan meningkatkan silaturahmi dengan kawargian dan masyarakat,” ucap Raden Luky.
Harapan diselenggarakannya kegiatan untuk mewujudkan daya saing daerah berbasis budaya, sehingga dapat meningkatkan kemajuan kebudayaan dan kepariwisataan daerah. “Agar generasi ke generasi tidak meninggalkan sejarah dan budaya daerahnya yang memiliki budaya luhur sebagai identitas jatidiri, sehingga harapan ke depan dapat membangun kesadaran kolektif akan pentingnya sebuah budaya dalam kehidupan masyarakat dan daerah,” harapnya. (tri)






