RADARSUMEDANG.id, DARMARAJA – Musim kemarau membuat debit air Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang terus menyusut. Kondisi tersebut dimanfaatkan sebagian warga untuk mengolah lahan yang sebelumnya terendam air menjadi area pertanian.
Di kawasan Cibungur, Kecamatan Darmaraja, warga memanfaatkan daratan yang kembali muncul ke permukaan untuk menanam sejumlah komoditas, seperti mentimun dan padi.
Tanaman tersebut diharapkan dapat dipanen sebelum permukaan air waduk kembali naik saat musim hujan tiba.
Pantauan di lapangan, sejumlah bagian wilayah yang sebelumnya terendam kini kembali terlihat. Aspal jalan raya Sumedang-Wado, dan sisa-sisa bangunan rumah warga yang terdampak pembangunan Waduk Jatigede tampak muncul ke permukaan.
Kondisi tanah di sejumlah titik terlihat kering dan mengalami retakan. Tak hanya itu, terdapat pula ikan yang mati akibat menyusutnya genangan air.
Salah seorang warga, Acim (69), memanfaatkan lahan yang muncul tersebut untuk bercocok tanam. Warga yang sebelumnya terdampak pembangunan Waduk Jatigede dan harus direlokasi itu menanam padi dan mentimun sambil tetap menjalankan usaha dagang.
Menurut Acim, hasil dari bercocok tanam tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menambah penghasilan.
“Lumayan untuk menambah modal dagang. Daripada nganggur, tanahnya sedang surut, saya manfaatkan untuk menanam padi dan mentimun sambil berjualan eceran,” kata Acim, Selasa (25/8).
Ia mengatakan, penyusutan permukaan Waduk Jatigede telah berlangsung sekitar tiga bulan. Penurunan muka air kali ini bahkan membuat daratan yang sebelumnya terendam terbuka dalam area cukup luas.
“Ini surutnya sudah ada sejak tiga bulan. Iya, surutnya jauh,” ujarnya.
Meski lahan mulai terbuka, kata Acim, belum semua warga tertarik untuk menggarapnya. Sebagian masih memilih menunggu dan melihat hasil yang diperoleh warga lain sebelum ikut menanam.
“Kalau sudah ada yang berhasil, biasanya baru ikut menanam. Kalau belum melihat hasilnya, ada saja yang malas untuk mulai,” katanya.
Bagi Acim, kondisi surutnya Waduk Jatigede tidak hanya membawa dampak, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Terlebih, hasil pertanian dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Kalau hanya mengandalkan dagang, ya begitu saja. Tapi kalau punya padi atau mentimun sendiri, setidaknya tidak perlu membeli untuk kebutuhan,” tuturnya.
Selain mengolah lahan menjadi area pertanian, warga juga memanfaatkan kawasan waduk yang surut untuk mencari tutut atau keong sawah.
Amun Lasimun (51), misalnya, bersama saudaranya sengaja datang ke kawasan tersebut untuk mencari tutut yang kemudian dibawa ke Sumedang Kota untuk dibagikan kepada masyarakat dan dikonsumsi.
“Ini lagi nyari tutut buat ke Sumedang Kota, dibawa ke masyarakat, dibagi-bagi dan dimasak sendiri, enggak dijual,” kata Amun.
Ia mengaku tidak setiap hari mencari tutut. Aktivitas tersebut biasanya dilakukan sekitar satu kali dalam sepekan sekaligus menjadi sarana rekreasi bersama keluarga.
Dalam pencarian kali ini, Amun mengaku telah mendapatkan sekitar 10 kilogram tutut.
“Saya enggak tiap hari, hanya satu minggu sekali. Sekalian refreshing. Alhamdulillah, surutnya Waduk Jatigede membawa berkah karena bisa dimanfaatkan untuk mencari tutut. Barusan alhamdulillah sudah dapat 10 kilogram,” tuturnya.
Berdasarkan informasi, elevasi normal Waduk Jatigede berada di angka 260 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara saat ini elevasi waduk tercatat 245 mdpl.
Kondisi surutnya Waduk Jatigede diperkirakan masih akan berlangsung hingga musim hujan tiba. Bagi sebagian warga, munculnya kembali lahan bekas genangan menjadi peluang untuk tetap produktif di tengah musim kemarau. (gun)






