RADARSUMEDANG.id — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cimahi, Jawa Barat mencatat peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayahnya.
Berdasarkan data surveilans, kenaikan kasus ISPA di Kota Cimahi terjadi di periode Agustus-September 2026. Minggu ke-34 atau 17-23 Agustus ada 1.499 kasus.
Sementara itu, di minggu 35 sebanyak 1.969 kasus, minggu 36 sebanyak 2.309 kasus dan minggu 37 sebanyak 2.675 kasus. Sehingga total kasusnya dalam empat pekan ada 8.402 kasus ISPA di Kota Cimahi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Mulyati mengatakan, melihat kondisi tersebut warga diimbau tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk menggunakan masker saat sakit atau berada di tempat ramai.
“Berdasarkan data hasil surveilans kami memang untuk kasus ISPA ini ada peningkatan dalam 4 minggu terakhir,” katanya.
Ia menambahkan, peningkatan kasus ISPA di Kota Cimahi ini tidak serta merta disimipulkan karena Influenza A yang sekarang sedang merebak. Sebab, ISPA dapat disebabkan berbagai faktor risiko maupun kuman penyebab.
“Naiknya kasus ISPA tidak serta-merta berarti seluruhnya disebabkan oleh influenza A, karena ISPA dapat disebabkan oleh berbagai faktor risiko dan kuman penyebab,” katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan, Dinas Kesehatan Kota Cimahi menerima laporan hampir semua fasilitas kesehatan seperti Puskesmas dan rumah sakit mengalami lonjakan pasien. Alhasil, terjadi kepadatan penanganan khususnya di IGD.
“Hampir semua rumah sakit pada intinya ada peningkatan pasien meski tidak spesifik disebabkan Influenza A. Tapi Influenza A sekarang memang lagi naik, namun demikian masyarakat tidak perlu panik,” katanya.
Pihaknya juga menyiagakan seluruh Puskesmas. Bahkan sudah sejak lama empat Puskesmas menerapkan pelayanan rawat jalan sore mulai pukul 15.00-20.00 WIB. Yakni Puskesmas Padasuka, Puskesmas Cipageran, Puskesmas Cimahi Utara dan Puskesmas Cibeureum.
Dirinya menjelaskan, Influenza A merupakan virus yang menginfeksi saluran pernapasan dan dapat menular melalui percikan saat penderita batuk, bersin, atau berbicara, serta melalui tangan atau benda yang terkontaminasi.
Gejala yang muncul antara lain demam atau meriang batuk, pilek, atau hidung tersumbat, sakit tenggorokan dan kepal, nyeri otot atau badan pegal, lemas atau mudah lelah, hingga mual, muntah, atau diare pada sebagian orang. Namun, tidak semua gejala tersebut menunjukkan Influenza.
“Kemudian tidak mampu minum atau mengalami kekurangan cairan berat demam atau gejala memburuk setelah sempat membaik. Lalu kondisi anak, bayi, lansia, ibu hamil, atau orang dengan penyakit tertentu memburuk atau mengkhawatirkan harus segera dibawa ke rumah sakit,” katanya.
Jika hanya mengalami gejala ringan, kata dia, masyarakat dapat berobat ke Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama (FKTP). Tenaga kesehatan akan menentukan apakah pasien cukup dirawat di rumah, memerlukan pemeriksaan atau pengobatan lanjutan, atau perlu dirujuk.
“Untuk perawatan di rumah, istirahat cukup dan perbanyak minum air. Gunakan masker saat sakit, terutama di sekitar orang lain, tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Hindari kontak dekat dengan bayi, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu,” tandasnya. (KRO)







