RADARSUMEDANG.id, BANDUNG – Suhu udara di Bandung Raya terasa semakin terik Oktober 2026. Stasiun Geofisika Bandung mencatat suhu tertinggi mencapai 35 derajat Celsius selama bulan ini. Kondisi cuaca dipengaruhi posisi gerak semu matahari yang berada di sekitar wilayah selatan ekuator, termasuk Jawa Barat, serta minimnya tutupan awan yang membuat radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi.
Prakirawan BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Edi Wibowo menjelaskan posisi matahari dan kondisi atmosfer menjadi faktor utama yang menyebabkan suhu udara meningkat. Ketika tutupan awan relatif sedikit, sinar matahari dapat mencapai permukaan bumi tanpa banyak terhalang, sehingga panas yang dirasakan masyarakat menjadi lebih menyengat.
“Fenomena lazim terjadi periode September hingga Oktober, ketika posisi gerak semu matahari berada di sekitar wilayah Jawa, membuat penerimaan radiasi matahari di wilayah Bandung Raya meningkat, terutama pada siang hari saat intensitas penyinaran berada pada tingkat tinggi,” ujar Edi, Jumat (16/10/2026).
Edi mengungkapkan selain posisi matahari, minimnya pertumbuhan awan konvektif juga berpengaruh terhadap kondisi cuaca. Awan yang terbentuk dalam jumlah terbatas membuat permukaan bumi menerima lebih banyak paparan sinar matahari secara langsung. Akibatnya, suhu udara dapat meningkat dan aktivitas di luar ruangan terasa lebih panas.
“Kondisi dapat memicu sensasi gerah, ngelekeb, terutama ketika suhu udara tinggi berpadu dengan kelembapan yang bervariasi,” katanya.
Cuaca panas yang dirasakan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan tingginya suhu, tetapi juga dipengaruhi kondisi kelembapan udara di lingkungan sekitar. Di sisi lain, perubahan suhu udara dalam jangka panjang turut menjadi perhatian. Tren iklim menunjukkan adanya kenaikan rata-rata suhu tahunan di Bandung.
“Dinamika iklim global, perkembangan kawasan permukiman, serta peningkatan emisi kendaraan di wilayah perkotaan menjadi sejumlah faktor yang dapat berkontribusi terhadap perubahan kondisi termal,” ucapnya.
Edi mengatakan meski suhu mencapai 35 derajat Celsius, masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi cuaca setempat dan informasi resmi dari BMKG. Suhu tertinggi yang tercatat di stasiun pengamatan merupakan hasil pengukuran pada lokasi dan waktu tertentu, sehingga tidak selalu menggambarkan suhu yang dirasakan secara merata di seluruh wilayah Bandung Raya.
Menurutnya, untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat cuaca panas, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan tabir surya, topi, atau pakaian yang dapat melindungi kulit dari paparan sinar matahari langsung.
“Membatasi aktivitas berat ketika cuaca sangat terik juga dapat membantu mengurangi paparan panas berlebihan,” ujar Edi.
Edi menegaskan masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih untuk menjaga kecukupan cairan tubuh dan mencegah dehidrasi. Apabila memungkinkan, aktivitas di luar ruangan dapat dijadwalkan pada waktu ketika paparan matahari tidak terlalu kuat.
Edi menambahkan selain menghadapi cuaca terik, masyarakat perlu tetap waspada terhadap risiko kebakaran selama periode musim kemarau. Salah satu langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah tidak membakar sampah sembarangan, terutama di area yang memiliki banyak material kering dan mudah terbakar. (dsn)






