RADARSUMEDANG.id, JATINANGOR – Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Fapet Unpad) melakukan pendampingan terhadap peternak sapi potong di Desa Cikondang, Kecamatan Ganeas, Kabupaten Sumedang, melalui program Smart Breeding untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi reproduksi ternak.
Program yang dikemas dalam Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Desa Binaan bertajuk “Unpad Berdampak” tersebut berlangsung selama delapan bulan, mulai April hingga November 2026.
Kegiatan ini dipimpin Dr. Ir. Dudi, S.Pt., M.Si., IPM bersama lima dosen anggota dan dua mahasiswa semester tujuh dari Tim Dosen Pemuliaan Ternak Fapet Unpad.
Pendampingan dilakukan secara langsung di kandang peternak, khususnya di Dusun Batugara, Desa Cikondang. Kegiatannya meliputi penyuluhan interaktif, konsultasi, serta pendampingan teknis terkait perbaikan reproduksi dan penerapan Inseminasi Buatan (IB).
Melalui program tersebut, para peternak mendapatkan pengetahuan mengenai cara mendeteksi birahi sapi secara tepat, pemeliharaan induk bunting, hingga seleksi calon pejantan dan induk betina produktif.
Tim Fapet Unpad menilai efisiensi reproduksi menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas peternakan rakyat. Salah satu targetnya adalah memperpendek jarak kelahiran atau calving interval menuju standar ideal 12–14 bulan.
Dengan jarak kelahiran yang lebih efisien, jumlah pedet yang dihasilkan dapat meningkat, sementara biaya pemeliharaan induk yang tidak produktif bisa ditekan.

Dalam pendampingan tersebut, tim juga menemukan sejumlah kendala, di antaranya tingginya angka Service per Conception (S/C), yaitu jumlah perkawinan atau pelayanan IB yang dibutuhkan hingga sapi berhasil bunting.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya pakan dan memperpanjang waktu reproduksi, terutama akibat keterlambatan mendeteksi birahi atau terbatasnya jangkauan petugas inseminator.
Sebagai salah satu solusi, tim Fapet Unpad merekomendasikan pembentukan kesepakatan kelompok untuk memiliki dan mengelola pejantan unggul secara bersama atau community bull.
Pejantan yang telah melalui seleksi kualitas genetik dan kemampuan reproduksi tersebut dapat menjadi alternatif kawin alam apabila pelaksanaan IB mengalami kegagalan berulang.
Selain membantu mendeteksi waktu birahi secara alami, sistem kepemilikan bersama juga dinilai dapat menekan biaya pemeliharaan karena ditanggung secara kolektif oleh kelompok peternak.
Namun, pengelolaan perkawinan tetap harus direncanakan dengan baik melalui pencatatan silsilah untuk menghindari perkawinan sedarah atau inbreeding.

Manfaat pendampingan ini mulai dirasakan peternak setempat. Salah satunya disampaikan Kawil, peternak sapi potong di Dusun Batugara.
“Dulu kalau sapi birahi sering telat panggil petugas IB karena kurang paham tanda-tanda pastinya, jadinya sering gagal bunting dan rugi waktu. Setelah didampingi tim dosen Unpad, kami jadi tahu kapan jam terbaik IB dan cara baca pencatatan reproduksi sapi,” ungkapnya.
Tim Fapet Unpad juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Desa Cikondang dan kelompok peternak yang telah berpartisipasi selama program berlangsung.
Melalui pendekatan yang aplikatif, pengetahuan ilmiah mengenai pemuliaan dan genetika ternak disampaikan menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami dan diterapkan oleh peternak.
Program ini diharapkan mampu mendorong perubahan pola pengelolaan peternakan yang sebelumnya lebih banyak mengandalkan kebiasaan turun-temurun menjadi manajemen yang lebih terencana dan terukur.
Fapet Unpad berharap penerapan Smart Breeding Program dan sistem pengelolaan pejantan bersama dapat terus berjalan secara mandiri serta menjadi model pengembangan peternakan sapi potong rakyat di desa-desa lain di Kabupaten Sumedang. (Rik)






