Kurangi Ketergantungan Gadget, Program Dongeng Sumedang Malam Siap Digulirkan

oleh
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Sumedang Hari Tri Santosa saat menunjukkan asset buku yang ada

RADARSUMEDANG.id, KOTA – Di tengah kebiasaan anak-anak yang kini semakin akrab dengan gadget, Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Sumedang menyiapkan langkah baru untuk menumbuhkan minat baca sejak dini. Salah satunya melalui program bertajuk Dongeng Sumedang Malam.

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Sumedang, Hari Tri Santosa, mengatakan program tersebut masih dalam tahap rancangan. Konsepnya mengajak orang tua mematikan gawai di malam hari dan menggantinya dengan aktivitas mendongeng atau membaca cerita kepada anak.

“Ke depan kami ingin ada gerakan mematikan HP, lalu menyalakan cerita. Ini supaya anak-anak lebih dekat dengan buku dan imajinasi,” ujar Hari.

Menurutnya, metode mendongeng terbukti efektif meningkatkan minat baca anak. Ia mencontohkan pengalaman seorang pendongeng yang berhasil membuat seorang anak kembali meminjam buku secara rutin setelah mendengarkan cerita selama beberapa pekan.

“Awalnya hanya mendengar satu cerita, lalu minggu berikutnya ingin lagi. Akhirnya jadi pelanggan tetap untuk meminjam buku,” katanya.

Tak hanya itu, Hari juga mengungkapkan kisah seorang guru yang rutin membacakan cerita nyaring kepada anaknya setiap malam. Hasilnya, di usia tiga hingga empat tahun, sang anak sudah mampu membaca lebih cepat dibanding anak seusianya.

Ia menilai kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi fondasi penting dalam membangun generasi yang lebih cerdas dan siap menghadapi Indonesia Emas 2045.

Selain program dongeng, Disarpus Sumedang juga terus mengembangkan layanan literasi digital melalui platform e-Literasi Sumedang yang menyediakan akses buku digital bagi masyarakat.

Menariknya, Hari juga memperkenalkan slogan unik MBG versi Disarpus. Jika saat ini masyarakat ramai membicarakan MBG, di Disarpus istilah itu dipelesetkan menjadi Membaca Buku Gratis, Membaca Buku Biar Ganteng/Gelis, hingga Membaca Buku Bari Gogoleran.

“Intinya, membaca itu harus jadi budaya yang menyenangkan dan bisa dilakukan di mana saja,” pungkasnya. (tha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.