RADARSUMEDANG.id, KOTA – Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Madrasah Kabupaten Sumedang menggelar Workshop Penyusunan Dokumen Kurikulum Madrasah Berbasis Cinta Tahun Pelajaran 2026/2027 pada 30 Juni hingga 1 Juli 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti guru madrasah dan RA lebih dari 798 peserta ini ditujukan bagi seluruh kepala Madrasah Aliyah (MA) dan guru MA se-Kabupaten Sumedang sebagai bentuk persiapan menghadapi tahun ajaran baru 2026/2027.
Ketua Pokjawas Madrasah Kabupaten Sumedang, H. Adang, S.Ag., M.Pd.I, mengatakan, workshop tersebut merupakan upaya untuk memperkuat pemahaman seluruh insan madrasah dalam menyusun dokumen kurikulum yang adaptif, kontekstual, dan selaras dengan kebijakan Kementerian Agama.
“Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan sehingga terwujud madrasah yang unggul, humanis, dan berkarakter,” ujarnya.
Workshop berlangsung selama dua hari dengan total durasi 20 jam pelajaran, dimulai pukul 08.00 hingga siang hari. Kegiatan menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya Dr. Khoerul Aman, M.Si dari Tim Inovasi JKT, Drs. Nurjaman, M.Pd selaku Pengawas Madrasah, Dr. Widayanti, M.PMat dari PasNas, serta Dede Sumiati, S.Sos.I., M.Pd.I dari PasNas.

Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan penuh dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumedang, H. Hamzah Rukmana, S.Ag., M.A, dan Kasi Pendidikan Madrasah Kankemenag Sumedang, Dr. H. Dadan Rahadian, S.Ag., M.Si.
Pelaksanaan workshop dinilai sangat strategis karena bertepatan dengan awal tahun ajaran baru. Pasalnya, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diinisiasi Kementerian Agama RI sejak 2025 menjadi salah satu ruh pendidikan humanis di lingkungan madrasah.
KBC sendiri bukanlah kurikulum baru yang menggantikan Kurikulum Merdeka, melainkan penguatan nilai kasih sayang, spiritualitas, dan kemanusiaan yang diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran yang sudah berjalan.
Salah satu tujuan utama workshop adalah menyamakan persepsi dan pemahaman guru terhadap konsep KBC. Selama ini, masih ditemukan adanya perbedaan pemahaman di lapangan sehingga diperlukan penyamaan frekuensi agar implementasinya berjalan optimal.
Dalam workshop tersebut, para peserta juga akan dibekali penyusunan modul ajar menggunakan alur Aktivitas, Refleksi, Konsep, dan Aplikasi (ARKA). Selain itu, guru akan diarahkan agar mampu mengintegrasikan nilai-nilai cinta tanpa menambah beban administrasi maupun mata pelajaran baru.
Tak hanya itu, peserta akan mendapatkan penguatan terkait lima pilar utama atau Panca Cinta yang meliputi cinta kepada Tuhan, cinta kepada diri dan sesama, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta kepada lingkungan, serta cinta kepada bangsa dan negara.
Kelima pilar tersebut diharapkan mampu membentuk karakter peserta didik yang religius, peduli, berwawasan kebangsaan, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Workshop juga menitikberatkan pada pembangunan budaya Madrasah Ramah Anak (MRA). Para guru akan dibimbing untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, bebas dari perundungan (bullying), kekerasan, maupun intoleransi.
Selain itu, peserta akan dibekali metode pembelajaran mendalam (deep learning) dengan pendekatan dialogis, sehingga proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada capaian akademik semata, tetapi juga pembentukan akhlak mulia peserta didik.
Melalui kegiatan ini, guru juga akan memperoleh panduan praktis berupa dokumen KBC dan Diari Panca Cinta yang dapat dijadikan pedoman selama proses pembelajaran pada tahun ajaran 2026/2027.
Sementara itu, Kepala MA Plus Al Munir Sumedang, H. Budiman, S.Pd., M.M, menyambut baik penyelenggaraan workshop tersebut. Menurutnya, kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi guru dalam menghadapi tantangan pendidikan di era saat ini.
“Workshop Kurikulum Berbasis Cinta ini sangat relevan dilaksanakan menjelang tahun ajaran baru. Kegiatan ini menjadi sarana peningkatan kapasitas guru agar semakin siap menghadirkan pembelajaran yang bermakna, humanis, dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik,” kata H Budiman.
Selain mendapatkan penguatan terkait implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), peserta juga di hari kedua akan memperoleh materi khusus mengenai penerapan aplikasi MAGIS (Madrasah Digital Supervision). Materi tersebut dinilai sangat penting sejalan dengan transformasi digital yang tengah dilakukan Kementerian Agama RI dalam meningkatkan mutu pendidikan madrasah secara berkelanjutan.(rik)







