RADARSUMEDANG.id, SUBANG – Kawasan hutan di Desa Bunihayu, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, yang menjadi lokasi ditemukannya jasad Karman (54), memiliki karakteristik medan yang cukup berat dan menantang. Kondisi alam berupa perbukitan, vegetasi yang lebat, hingga jalur setapak yang minim penanda membuat kawasan ini dikenal memiliki tingkat kesulitan tinggi bagi siapa pun yang memasuki hutan tanpa persiapan.
Karman, warga Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, sebelumnya dilaporkan hilang saat memikat burung di kawasan Kampung Cicariu, Desa Bunihayu. Setelah empat hari pencarian, Tim SAR Gabungan akhirnya menemukan korban dalam kondisi meninggal dunia pada Sabtu (11/7) sekitar pukul 13.40 WIB.
Secara geografis, kawasan Bunihayu berada di wilayah pegunungan dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Letaknya berada di kaki Gunung Tangkuban Parahu dan Bukit Tunggul, sehingga didominasi kontur perbukitan, lereng curam, serta lembah yang cukup dalam.
Vegetasi di kawasan tersebut juga tergolong sangat rapat. Di bagian luar terdapat area tegalan dan perkebunan milik warga, sedangkan semakin masuk ke kawasan hutan, pepohonan besar dengan tajuk yang saling bertaut membuat cahaya matahari sulit menembus dasar hutan. Kondisi ini menyebabkan jarak pandang menjadi terbatas, terutama saat cuaca mendung atau menjelang sore.
Selain itu, jalur menuju bagian dalam hutan umumnya hanya berupa jalan setapak yang terbentuk secara alami. Banyak jalur yang tertutup semak belukar, licin ketika diguyur hujan, dan memiliki percabangan yang dapat membingungkan orang yang tidak memahami medan. Situasi tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam operasi pencarian maupun aktivitas masyarakat yang memasuki kawasan hutan.
Karena berada di kawasan pegunungan, suhu udara di Bunihayu relatif sejuk hingga dingin. Kabut tebal juga kerap turun secara tiba-tiba, terutama pada sore dan malam hari, sehingga semakin mengurangi jarak pandang dan menyulitkan proses pencarian maupun evakuasi.
Di balik kondisi alamnya yang menantang, hutan di wilayah Subang bagian selatan dikenal sebagai habitat berbagai jenis burung kicau yang banyak dicari para penghobi. Beberapa di antaranya adalah murai batu, trucukan, pleci, dan kacer yang hidup di kawasan hutan maupun tepian perkebunan.
Namun demikian, kawasan ini juga menjadi habitat sejumlah satwa liar yang dilindungi. Di antaranya terdapat Elang Jawa dan burung enggang (rangkong), yang keberadaannya dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. Aktivitas perburuan terhadap satwa dilindungi merupakan tindakan melanggar hukum dan dapat dikenai sanksi pidana.
Karakteristik medan yang berat dipadukan dengan vegetasi yang rapat menjadi alasan mengapa setiap aktivitas di kawasan hutan Bunihayu memerlukan kewaspadaan tinggi. Masyarakat diimbau tidak memasuki kawasan hutan seorang diri serta selalu memperhatikan faktor keselamatan, terutama saat beraktivitas di wilayah pegunungan yang minim akses dan jauh dari permukiman.
Jenis Burung yang Banyak Diburu di Hutan Subang
- Kucica Hutan (Murai Batu): Burung teritorial berharga mahal yang terkenal dengan suara kicauan bervariasi dan ekornya yang panjang.
- Merbah Cerukcuk (Trucukan): Jenis burung komunal yang menyukai area pinggiran hutan dan perkebunan semi-terbuka.
- Burung Kacamata (Pleci): Burung kecil koloni berlingkar mata putih yang sangat populer di kalangan pencinta burung kicau rumahan.
- Kecer (Kacer): Burung hitam-putih petarung yang memiliki suara lantang dan kerap ditemui di dahan-dahan pohon area lereng bukit.
(net)






